top of page

Manajemen Biaya Logistik Saat Volume Pengiriman Naik


Pengantar: Lonjakan Pengiriman Ramadan

Bayangkan Anda sedang berada di sebuah jalan raya saat jam pulang kantor di hari terakhir menjelang libur panjang. Macet, riuh, dan semua orang terburu-buru. Itulah gambaran industri logistik saat memasuki bulan Ramadan dan menjelang Lebaran. Di Indonesia, periode ini adalah "ujian nasional" bagi setiap pemilik bisnis dan manajer logistik. Volume pengiriman tidak hanya naik 10% atau 20%, tapi bisa melonjak berkali-kali lipat dalam waktu singkat.

 

Kenapa ini jadi masalah? Karena semua orang ingin paketnya sampai sebelum hari raya. Lonjakan ini menciptakan tekanan luar biasa pada infrastruktur yang kita miliki. Gudang yang biasanya lega jadi penuh sesak, kurir yang biasanya santai jadi harus lari-larian, dan jumlah armada yang ada mendadak terasa kurang. Fenomena ini sering kita sebut sebagai peak season.

 

Dalam kondisi ini, pengusaha sering terjebak dalam pemikiran: "Yang penting barang sampai, biaya urusan belakangan." Padahal, pola pikir ini sangat berbahaya. Tanpa manajemen biaya yang ketat, lonjakan penjualan yang luar biasa besar di bulan Ramadan bisa jadi tidak memberikan keuntungan apa pun karena habis dimakan oleh biaya logistik yang membengkak tanpa kontrol.

 

Tantangan utamanya adalah bagaimana kita tetap bisa memberikan layanan yang cepat dan tepat waktu di tengah kemacetan dan overload pesanan, tanpa harus membuat dompet perusahaan jebol. Pengantar ini akan membawa kita memahami bahwa mengelola logistik di saat volume naik bukan hanya soal menambah orang atau kendaraan, tapi soal strategi mengatur sumber daya yang terbatas untuk hasil yang paling efisien. Mari kita pelajari bagaimana cara menyeimbangkan antara kepuasan pelanggan dan kesehatan arus kas perusahaan di momen yang penuh tekanan ini.

 

Struktur Biaya Logistik

Sebelum kita memotong biaya, kita harus tahu dulu uang kita lari ke mana saja. Struktur biaya logistik itu sebenarnya seperti gunung es; yang kita lihat di permukaan mungkin cuma biaya bensin dan gaji sopir, tapi di bawahnya ada banyak biaya tersembunyi yang siap menenggelamkan kapal bisnis kita jika tidak waspada.

 

Secara garis besar, biaya logistik dibagi menjadi dua: Biaya Tetap (Fixed Cost) dan Biaya Variabel (Variable Cost).

  • Biaya Tetap adalah biaya yang harus Anda bayar tidak peduli barangnya dikirim atau tidak. Contohnya adalah sewa gudang, cicilan kendaraan, asuransi, dan gaji pokok staf administrasi. Saat volume naik, biaya tetap ini biasanya cenderung stabil, namun pemanfaatannya jadi lebih maksimal.

  • Biaya Variabel inilah yang sering jadi "biang kerok" saat Ramadan. Biaya ini berubah-ubah mengikuti jumlah pengiriman. Bensin, biaya perawatan kendaraan karena jarak tempuh yang makin jauh, uang makan sopir, biaya parkir/tol, hingga biaya outsourcing kurir tambahan jika armada sendiri sudah tidak sanggup.

 

Selain itu, ada juga Biaya Persediaan (Holding Cost). Saat barang menumpuk di gudang karena menunggu antrean kirim, ada biaya yang timbul dari risiko barang rusak, hilang, atau sekadar biaya listrik gudang yang meningkat karena lembur. Jangan lupakan juga Biaya Administrasi seperti komunikasi dengan pelanggan yang menanyakan paketnya.

 

Memahami struktur biaya ini membantu kita melihat di mana pemborosan terjadi. Misalnya, jika biaya variabel Anda naik jauh lebih tinggi daripada persentase kenaikan volume barang, itu artinya ada yang salah dengan efisiensi operasional Anda. Dengan membedah struktur ini, kita bisa menentukan "titik impas" dan memastikan setiap paket yang kita kirim benar-benar menghasilkan profit, bukan malah menambah beban hutang perusahaan.

 

Studi Kasus Cost Overrun Logistik

Mari kita belajar dari kesalahan orang lain agar kita tidak perlu merasakannya sendiri. Ada sebuah kasus nyata di mana sebuah perusahaan fashion besar mengalami lonjakan pesanan hingga 300% saat Ramadan. Penjualan mereka meledak, semua orang di kantor bersorak gembira. Namun, di akhir bulan, bagian keuangan kaget karena keuntungan mereka justru lebih kecil dibanding bulan biasa. Kenapa bisa begitu? Itulah yang disebut dengan Cost Overrun atau biaya yang membengkak melampaui anggaran.

 

Setelah diaudit, ternyata perusahaan tersebut melakukan beberapa kesalahan fatal karena panik menghadapi lonjakan pesanan. Pertama, karena armada sendiri tidak cukup, mereka menyewa truk tambahan secara mendadak dengan harga "tarif tengkulak" alias jauh di atas harga pasar. Mereka tidak punya kontrak kerjasama jangka panjang dengan vendor logistik pihak ketiga (3PL).

 

Kedua, terjadi kekacauan di gudang. Karena barang masuk dan keluar begitu cepat tanpa prosedur yang jelas, banyak barang yang salah kirim. Akibatnya, mereka harus menanggung biaya retur (barang dikembalikan) dan mengirim ulang barang yang benar. Biaya kirim jadi dobel, padahal pendapatan dari pelanggan tetap satu.

 

Ketiga, mereka tidak memantau konsumsi BBM. Karena sopir dikejar target sampai malam, banyak sopir yang mengambil rute terjauh demi menghindari macet tanpa perhitungan matang, atau membiarkan mesin truk tetap menyala berjam-jam saat antre di gudang (idle time).

 

Kasus ini mengajarkan kita bahwa volume besar tidak selalu berarti untung besar. Tanpa SOP yang ketat saat kondisi high demand, operasional logistik akan menjadi lubang hitam yang menyerap semua uang perusahaan. Efisiensi bukan soal memotong biaya secara buta, tapi soal melakukan proses dengan benar sejak awal agar tidak ada biaya "sampah" yang timbul akibat kesalahan koordinasi.

 

Biaya Armada dan BBM

Di dunia logistik, kendaraan dan bensin adalah "napas" utama. Namun, saat volume pengiriman naik, napas ini bisa jadi sangat mahal. Biaya bahan bakar minyak (BBM) biasanya menyumbang porsi terbesar, bisa sampai 30-40% dari total biaya operasional logistik. Saat Ramadan, harga BBM mungkin tidak naik, tapi jumlah yang dikonsumsi pasti melonjak tajam karena dua hal: jarak tempuh dan kemacetan.

 

Kemacetan adalah musuh nomor satu efisiensi BBM. Kendaraan yang terjebak macet dengan mesin menyala mengonsumsi bensin tanpa menghasilkan jarak tempuh. Di sinilah pentingnya manajemen armada. Anda perlu memastikan semua kendaraan dalam kondisi prima. Ban yang kurang angin atau mesin yang belum diservis bisa membuat konsumsi bensin lebih boros 5-10%. Bayangkan jika Anda punya 50 armada, pemborosan 10% itu bisa setara dengan jutaan rupiah per hari.

 

Lalu ada dilema "Armada Sendiri vs Vendor". Saat volume naik, seringkali kita tergoda untuk menambah unit kendaraan. Namun, ingatlah bahwa kendaraan adalah aset yang butuh biaya perawatan dan penyusutan. Jika lonjakan hanya terjadi di bulan Ramadan, lebih bijak menggunakan kombinasi antara armada inti milik sendiri dan menyewa vendor pihak ketiga untuk menutupi kelebihannya.

 

Selain itu, penggunaan teknologi seperti GPS tracking bukan lagi kemewahan, tapi kebutuhan. Dengan GPS, Anda bisa memantau perilaku sopir. Apakah mereka sering berhenti terlalu lama dengan mesin menyala? Atau apakah mereka menggunakan kendaraan untuk keperluan pribadi di luar rute? Monitoring ini memberikan tekanan positif bagi tim lapangan untuk lebih disiplin dalam menggunakan aset perusahaan. Mengelola biaya armada dan BBM adalah soal detail; setiap liter bensin yang bisa dihemat sangat berarti bagi margin keuntungan perusahaan di akhir bulan.

 

Penjadwalan Pengiriman Efisien

Masalah besar saat volume naik adalah semua orang merasa pesanan mereka adalah prioritas nomor satu. Jika kita menuruti semua permintaan tanpa jadwal yang jelas, yang terjadi adalah "kebakaran" di operasional. Penjadwalan yang buruk membuat armada mondar-mandir tidak karuan, satu area dikunjungi tiga kali oleh truk yang berbeda di hari yang sama. Ini adalah pemborosan yang luar biasa.

 

Penjadwalan yang efisien dimulai dengan pengelompokan (grouping). Semua paket yang searah harus dikirim dalam satu jadwal pengiriman. Selain itu, kita harus mulai mengenal skala prioritas dan Lead Time. Informasikan kepada pelanggan bahwa di masa Ramadan, ada estimasi waktu tambahan. Ini memberikan ruang bagi tim logistik untuk mengatur jadwal yang lebih masuk akal.

 

Kita juga bisa menggunakan strategi "Wave Picking & Shipping". Artinya, pengiriman dibagi dalam beberapa gelombang. Misalnya, gelombang pertama untuk luar kota dilakukan pagi hari sekali agar terhindar dari macet di jalur keluar kota, dan gelombang kedua untuk dalam kota dilakukan di jam-jam tertentu.

 

Jangan lupa untuk mengatur jadwal loading di gudang. Seringkali biaya membengkak karena truk sudah siap berangkat jam 8 pagi, tapi barang baru siap jam 11 siang. Waktu tunggu 3 jam itu adalah biaya! Sopir dibayar, bensin terbuang jika mesin nyala, dan waktu produktivitas hilang. Penjadwalan yang baik harus mengintegrasikan tim gudang dan tim transportasi. Jika mereka sinkron, barang mengalir lancar seperti air di pipa, tanpa ada sumbatan yang bikin biaya operasional meluap. Kuncinya adalah disiplin pada jadwal yang telah dibuat dan komunikasi yang transparan antara bagian penjualan, gudang, dan kurir.

 

Lembur Tim Operasional

Lembur adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, lembur memang diperlukan untuk menyelesaikan tumpukan paket yang menggunung. Di sisi lain, biaya lembur bisa membuat struktur biaya logistik Anda jadi tidak sehat. Gaji lembur biasanya dihitung lebih mahal daripada jam kerja biasa, dan jika tidak diawasi, produktivitas orang yang lembur sebenarnya menurun karena kelelahan.

 

Masalahnya seringkali bukan pada jumlah barangnya, tapi pada alur kerja. Jika di siang hari staf gudang banyak menganggur karena menunggu data dari tim penjualan, lalu baru bekerja keras di malam hari, itu namanya manajemen yang buruk. Anda membayar orang untuk menganggur di jam biasa dan membayar mahal untuk mereka bekerja di jam lembur.

 

Cara mengatasinya adalah dengan mengatur Sistem Shift. Daripada mempekerjakan satu tim selama 12 jam (dengan 4 jam lembur mahal), lebih baik bagi mereka menjadi dua shift (pagi dan malam). Biayanya akan lebih murah dan tim tetap segar, sehingga risiko kesalahan kerja atau kecelakaan karena kelelahan bisa dikurangi.

 

Jika shift tetap tidak cukup, pertimbangkan untuk menyewa tenaga harian lepas (freelancer) khusus untuk bagian-bagian yang tidak butuh keahlian tinggi, seperti bagian packing atau sortir barang. Biaya tenaga harian biasanya lebih terukur dan tidak membebani tunjangan jangka panjang.

 

Ingat, mengelola tim operasional saat peak season bukan cuma soal uang, tapi soal menjaga moral. Tim yang terlalu dipaksa lembur tanpa istirahat cukup akan mulai membuat kesalahan—salah tempel resi, salah hitung stok, atau barang rusak karena dilempar-lempar. Ujung-ujungnya, biaya yang timbul akibat kesalahan tersebut (biaya retur dan komplain) akan jauh lebih mahal daripada biaya lembur itu sendiri. Jadi, gunakan lembur secara bijak dan pastikan setiap jam tambahan benar-benar menghasilkan output yang sepadan.

 

Optimasi Rute

Dulu, sopir mungkin mengandalkan insting atau hafalan jalan. Tapi saat volume pengiriman melonjak dan macet di mana-mana, insting saja tidak cukup. Optimasi rute adalah cara paling "pintar" untuk menurunkan biaya tanpa harus mengurangi jumlah pengiriman. Intinya: bagaimana mengirim barang ke 20 tempat berbeda dengan jarak tempuh paling pendek dan waktu paling singkat.

 

Bayangkan jika truk Anda harus mengantar ke titik A, lalu ke titik C, baru balik lagi ke titik B yang sebenarnya ada di antara A dan C. Itu adalah pemborosan bensin dan waktu. Dengan teknologi Route Optimization (seperti Google Maps khusus logistik atau aplikasi TMS), sistem bisa menghitung secara otomatis rute mana yang paling efisien berdasarkan lokasi, titik kemacetan real-time, hingga kapasitas muatan truk.

 

Selain jarak pendek, optimasi rute juga harus mempertimbangkan "Drop Density" atau kerapatan titik antar. Semakin banyak paket yang bisa diturunkan dalam satu area yang sempit, semakin murah biaya per paketnya. Jika area pengantaran terlalu menyebar, biaya logistik per barang akan melonjak.

 

Selain itu, pertimbangkan pula waktu operasional penerima. Jangan sampai kurir sudah sampai di lokasi yang rutenya sudah dioptimasi, tapi ternyata kantor tujuan sudah tutup atau penerima tidak ada di tempat. Rute yang optimal juga harus mempertimbangkan jam operasional toko atau rumah tangga agar tidak perlu ada kunjungan ulang (re-delivery).

 

Kunjungan ulang adalah pembunuh profit. Setiap kali kurir harus kembali ke tempat yang sama besok karena hari ini gagal kirim, biaya kirim paket itu naik 100%. Dengan rute yang tepat dan komunikasi dengan pelanggan sebelum berangkat, kita bisa memastikan tingkat keberhasilan kirim di hari yang sama mencapai angka tertinggi. Optimasi rute bukan hanya soal peta, tapi soal efisiensi energi, waktu, dan biaya dalam satu tarikan napas operasional.

 

Monitoring Cost per Delivery

Bagaimana Anda tahu kalau bisnis logistik Anda sedang "sehat" atau "sakit" di tengah gempuran pesanan Ramadan? Jawabannya ada pada satu angka sakti: Cost per Delivery (CPD). Banyak pengusaha hanya melihat total pengeluaran di akhir bulan, tapi itu tidak memberikan gambaran yang jelas. Anda harus tahu berapa biaya rata-rata untuk mengirim satu paket sampai ke tangan pelanggan.

 

Cara menghitungnya sederhana: Total Biaya Logistik (BBM + Gaji + Lembur + Sewa + Perawatan + Tol) dibagi dengan Jumlah Paket yang Berhasil Dikirim.

 

Saat volume pengiriman naik, secara teori, CPD Anda seharusnya bisa turun karena adanya Skala Ekonomi. Artinya, biaya tetap (sewa gudang, gaji pokok) dibagi ke jumlah paket yang lebih banyak. Namun, jika yang terjadi malah sebaliknya—volume naik tapi CPD juga naik—itu adalah lampu merah! Artinya, biaya variabel Anda (lembur, bensin karena macet, salah kirim) sudah di luar kendali.

 

Lakukan monitoring ini secara harian atau mingguan, jangan tunggu akhir bulan. Jika di minggu pertama Ramadan Anda melihat CPD melonjak, Anda bisa langsung mencari penyebabnya. Apakah karena rute yang berantakan? Atau karena terlalu banyak biaya lembur?

 

Monitoring CPD juga membantu Anda dalam menentukan harga jual atau biaya ongkir ke pelanggan di masa depan. Anda jadi tahu apakah ongkir yang Anda tetapkan sudah menutup biaya operasional atau jangan-jangan selama ini Anda "nombok". Data CPD ini adalah alat navigasi bagi manajemen untuk tetap tenang di tengah badai lonjakan volume. Dengan angka di tangan, setiap keputusan yang diambil bukan lagi berdasarkan perasaan atau firasat, tapi berdasarkan fakta finansial yang kuat untuk menjaga keberlangsungan bisnis.

 

Risiko Keterlambatan dan Denda

Di bisnis logistik, waktu adalah uang dalam arti yang sesungguhnya. Saat volume naik, risiko keterlambatan adalah ancaman nyata. Namun, keterlambatan bukan hanya soal pelanggan yang marah-marah di media sosial; bagi banyak bisnis, keterlambatan berarti Denda (Penalty) atau pembatalan transaksi secara sepihak.

 

Banyak kontrak kerjasama (SLA - Service Level Agreement) mencantumkan bahwa jika barang tidak sampai dalam waktu tertentu, penyedia logistik atau penjual harus membayar denda atau memberikan potongan harga. Di bulan Ramadan, risiko ini meningkat drastis karena macet dan overload. Biaya denda ini seringkali tidak masuk dalam anggaran awal, sehingga saat tagihan denda datang, keuntungan yang sudah dikumpulkan susah payah bisa hilang seketika.

 

Selain denda materi, ada risiko "Opportunity Cost" atau hilangnya kesempatan. Pelanggan yang kecewa karena baju lebarannya baru sampai di H+2 Lebaran kemungkinan besar tidak akan pernah belanja lagi di tempat Anda tahun depan. Biaya untuk mencari pelanggan baru jauh lebih mahal daripada mempertahankan pelanggan lama.

 

Lalu ada juga risiko Barang Rusak. Karena gudang penuh dan kurir terburu-buru, barang sering ditumpuk sembarangan atau ditangani dengan kasar. Barang rusak berarti Anda harus mengganti barang tersebut plus menanggung biaya kirim ulangnya.

 

Cara memitigasi risiko ini adalah dengan Transparansi. Berikan informasi tracking yang akurat. Jika ada potensi keterlambatan karena kendala di jalan, informasikan lebih awal. Pelanggan biasanya lebih bisa memaklumi keterlambatan yang diinformasikan sejak awal daripada yang tiba-tiba. Selain itu, pastikan asuransi pengiriman tetap aktif. Lebih baik membayar premi kecil daripada harus menanggung kerugian total saat truk mengalami kecelakaan di tengah kemacetan mudik yang parah.

 

Kesimpulan

Mengelola logistik saat volume melonjak, terutama di momen krusial seperti Ramadan, adalah seni menyeimbangkan antara kecepatan dan biaya. Lonjakan volume adalah berkah bagi penjualan, tapi tanpa manajemen biaya yang cerdas, ia bisa menjadi musibah bagi arus kas perusahaan. Kuncinya bukan pada seberapa banyak sumber daya yang Anda punya, tapi seberapa efisien Anda mengaturnya.

 

Kita sudah belajar bahwa memahami Struktur Biaya adalah langkah awal untuk mengidentifikasi pemborosan. Optimasi Rute dan Penjadwalan yang Efisien adalah alat utama untuk menekan konsumsi BBM dan waktu kerja. Kita juga diingatkan bahwa manajemen Tim dan Lembur harus dilakukan secara manusiawi dan terukur agar tidak menjadi beban finansial yang sia-sia.

 

Monitoring angka Cost per Delivery secara rutin menjadi kompas agar manajemen tetap berada di jalur yang benar. Jangan sampai kita terlena dengan tumpukan paket tapi lupa bahwa setiap paket membawa beban biaya yang harus dikelola. Dan terakhir, waspadalah terhadap Risiko Denda dan Keterlambatan yang bisa menghapus semua margin keuntungan dalam sekejap.

 

Bisnis logistik yang sukses bukan yang paling banyak armadanya, tapi yang paling rapi sistemnya. Saat semua orang panik di musim puncak, sistem yang kuat akan membuat operasional tetap berjalan dingin dan efisien. Jadikan lonjakan volume sebagai batu loncatan untuk tumbuh, bukan beban yang menenggelamkan. Dengan perencanaan matang, teknologi yang tepat, dan tim yang solid, Anda bisa melewati tantangan logistik Ramadan dengan senyum kemenangan dan profit yang maksimal di akhir hari raya.


Apakah Anda siap untuk menguasai strategi keuangan bisnis yang efektif dan mengubah nasib bisnis Anda? Ikuti e-course "Jurus Keuangan Bisnis" kami sekarang dan temukan rahasia sukses finansial yang berkelanjutan! klik di sini





Comments


PT Cerdas Keuangan Bisnis berdiri sejak 2023

© 2025 @Ilmukeuangan

bottom of page