top of page

Mengatur Prioritas Pengeluaran Saat Semua Tim Minta Budget


Pengantar: Ramadan = Banyak Permintaan Budget

Bagi orang keuangan atau pemilik bisnis, bulan Ramadan itu unik. Di satu sisi, ini adalah musim "panen" karena daya beli masyarakat biasanya melonjak drastis. Tapi di sisi lain, ini adalah momen paling bikin pusing karena permintaan budget datang dari segala arah secara bersamaan. Ibaratnya, semua tim tiba-tiba punya alasan mendesak kenapa mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak bulan ini.

 

Tim Marketing minta tambahan budget iklan karena ingin mengejar momentum kampanye Lebaran. Tim Operasional minta dana tambahan untuk stok barang atau biaya lembur karena permintaan naik. Tim HR minta dana untuk acara buka puasa bersama, bingkisan Lebaran, sampai bonus karyawan. Bahkan tim fasilitas mungkin minta perbaikan AC kantor karena bakal sering dipakai untuk acara internal.

 

Masalahnya, meskipun pendapatan meningkat, uang tunai (cash flow) perusahaan tetap punya batasan. Jika semua permintaan ini dikabulkan tanpa filter, keuntungan yang seharusnya bisa dipetik di akhir musim justru bisa habis tak bersisa hanya untuk menutupi biaya-biaya yang meledak di tengah jalan. Di sinilah "seni" mengatur uang diuji. Kita harus bisa melihat mana pengeluaran yang memang akan mendatangkan hasil, dan mana yang cuma sekadar "ingin". Ramadan bukan soal seberapa banyak yang kita belanjakan untuk merayakan musim ramai, tapi seberapa efektif setiap rupiah yang kita keluarkan untuk mendukung operasional dan menjaga keberlangsungan bisnis setelah musim ini berakhir.

 

Risiko Budget Bocor

Pernah merasa uang di rekening bisnis cepat banget habisnya padahal jualan lagi laku-lakunya? Nah, itu tanda-tanda terjadi "kebocoran" budget. Dalam bisnis, bocornya anggaran bukan berarti uangnya hilang dicuri, tapi uangnya keluar untuk hal-hal yang tidak direncanakan, tidak perlu, atau harganya jauh lebih mahal dari yang seharusnya.

 

Risiko kebocoran ini paling besar terjadi saat kondisi sedang ramai seperti menjelang Lebaran. Kenapa? Karena semua orang merasa "ah, kan jualan lagi banyak, belanja segini doang nggak apa-apalah". Sikap meremehkan pengeluaran kecil ini sangat berbahaya. Misalnya, biaya pengiriman yang naik karena semua pengiriman dibuat mendesak (urgent), atau pembelian perlengkapan promosi yang harganya mahal karena belinya mepet.

 

Kebocoran ini sifatnya akumulatif. Satu atau dua pengeluaran mungkin terlihat kecil, tapi kalau ada sepuluh tim yang masing-masing "bocor" sedikit saja, totalnya bisa jutaan atau bahkan ratusan juta rupiah. Dampak jangka panjangnya? Perusahaan bisa kesulitan membayar kewajiban di bulan-bulan setelah Ramadan yang biasanya cenderung lebih sepi. Jika pengeluaran tidak terkontrol, margin keuntungan kita akan tergerus. Di akhir musim, kita cuma dapat capeknya saja, tapi pundi-pundi perusahaan tidak bertambah. Membiarkan budget bocor sama saja dengan membiarkan kapal besar tenggelam hanya karena lubang kecil yang diabaikan.

 

Studi Kasus Approval Terlalu Longgar

Ada sebuah cerita dari perusahaan retail menengah yang baru saja melewati masa Ramadan tahun lalu. Mereka mencatat rekor penjualan tertinggi dalam sejarah perusahaan. Namun, saat laporan keuangan keluar sebulan kemudian, sang pemilik kaget bukan main karena keuntungan bersihnya malah lebih kecil dibanding bulan-bulan biasa. Kenapa bisa begitu?

 

Ternyata, masalahnya ada pada sistem approval (persetujuan) yang terlalu longgar. Karena tim manajemen merasa bisnis sedang sangat sukses, mereka memberikan "lampu hijau" kepada hampir semua permintaan dana dari manajer tiap divisi tanpa verifikasi yang ketat. Manajer gudang menambah tenaga kerja harian dua kali lipat dari kebutuhan karena takut kewalahan, padahal sistem otomatis bisa membantu. Tim kreatif menyewa jasa vendor mahal hanya untuk membuat satu video ucapan Lebaran yang sebenarnya bisa dibuat tim internal.

 

Hasilnya? Biaya operasional meledak melebihi kenaikan pendapatan. Pengeluaran-pengeluaran ini "disembunyikan" dalam label kebutuhan mendesak musim ramai. Peristiwa ini memberikan pelajaran mahal: approval yang terlalu santai adalah musuh utama profitabilitas. Persetujuan dana harus tetap berdasarkan data dan proyeksi hasil, bukan berdasarkan perasaan senang karena jualan lagi laku. Tanpa filter yang kuat, bisnis Anda hanya akan menjadi "saluran air" di mana uang masuk lewat depan dan langsung keluar lewat belakang tanpa sempat tersimpan.

 

Skala Prioritas Pengeluaran

Saat semua tim merasa permintaannya paling mendesak, senjata utama Anda adalah "Skala Prioritas". Tanpa ini, Anda akan terjebak dalam politik kantor atau siapa yang paling berisik suaranya, dia yang dapat budget. Skala prioritas membantu kita membagi pengeluaran menjadi beberapa kategori utama untuk menentukan mana yang harus didahulukan.

 

Urutan pertama harus selalu Pengeluaran yang Menghasilkan Pendapatan (Revenue Generating). Contohnya adalah stok barang jualan, biaya iklan yang performanya terukur, atau komisi tenaga penjual. Jika pengeluaran ini distop, bisnis tidak akan jalan. Urutan kedua adalah Pengeluaran Operasional Esensial, seperti listrik, gaji karyawan tetap, dan sewa tempat. Ini adalah "napas" perusahaan.

 

Urutan terakhir adalah pengeluaran yang sifatnya Keinginan atau Penunjang (Nice-to-Have). Misalnya, ganti seragam kantor baru untuk Lebaran, renovasi kecil-kecilan di ruang tunggu, atau langganan software tambahan yang sebenarnya jarang dipakai. Di saat musim ramai, pengeluaran kategori terakhir ini harus ditunda atau ditekan seminimal mungkin. Kita harus berani berkata "tidak" pada pengeluaran yang tidak secara langsung mendukung kelancaran operasional atau peningkatan penjualan selama Ramadan. Ingat, prioritas bukan berarti kita pelit, tapi kita sedang memastikan bahwa sumber daya yang terbatas digunakan untuk hal-hal yang paling memberikan dampak besar bagi perusahaan.

 

Pengeluaran Wajib vs Tambahan

Seringkali kita bingung membedakan mana yang memang "wajib" dibayar dan mana yang cuma "tambahan" yang sebenarnya bisa kita tawar atau tunda. Memahami perbedaan kedua hal ini adalah kunci dari efisiensi budget saat semua tim minta dana.

 

Pengeluaran Wajib adalah biaya-biaya yang sudah menjadi komitmen hukum atau operasional dasar yang tidak bisa dihindari. Contoh paling nyata adalah Tunjangan Hari Raya (THR) karyawan. Ini adalah kewajiban yang sudah diatur undang-undang dan harus ada anggarannya. Begitu juga dengan pembayaran ke supplier yang sudah jatuh tempo. Jika ini tidak dibayar, kredibilitas bisnis Anda taruhannya.

 

Di sisi lain, Pengeluaran Tambahan adalah biaya yang muncul karena keinginan untuk "tampil lebih baik" atau "lebih nyaman". Contohnya adalah menyewa dekorasi kantor bertema Ramadan yang mewah, atau mengadakan buka puasa bersama di hotel berbintang lima. Apakah itu penting? Mungkin iya untuk moral tim, tapi apakah itu wajib? Jelas tidak. Jika arus kas sedang ketat, pengeluaran tambahan inilah yang harus "disunat". Kita bisa mengganti buka puasa hotel dengan katering sederhana di kantor yang suasananya tetap hangat namun jauh lebih hemat. Dengan memisahkan kedua kategori ini secara tegas, Anda bisa melihat dengan jelas berapa budget minimum yang benar-benar harus keluar, dan berapa banyak ruang yang Anda punya untuk berhemat.

 

Sistem Approval Berlapis

Kenapa sih sistem approval dana harus berlapis-lapis? Bukannya itu bikin kerja jadi lambat? Nah, di musim ramai seperti Ramadan, sistem berlapis ini justru berfungsi sebagai "rem darurat" agar uang perusahaan tidak keluar sembarangan. Kalau cuma butuh persetujuan satu orang, risikonya adalah bias atau rasa segan yang tinggi.

 

Sistem yang sehat biasanya punya tingkatan berdasarkan nominal uang. Misalnya, pengeluaran di bawah Rp 1 juta cukup disetujui supervisor. Tapi kalau sudah di atas Rp 5 juta, harus sampai ke level manajer. Dan jika sudah puluhan juta, harus lewat CFO atau pemilik bisnis. Setiap lapisan ini harus punya tugas yang berbeda. Satu orang mengecek apakah budget-nya ada, orang lain mengecek apakah vendornya sudah yang termurah, dan orang terakhir memastikan apakah ini benar-benar perlu dilakukan sekarang.

 

Selain itu, sistem ini memaksa tim untuk berpikir dua kali sebelum mengajukan budget. Mereka harus menyiapkan argumen yang kuat karena tahu permintaan mereka akan diperiksa oleh beberapa orang. Ini menciptakan budaya tanggung jawab. Memang mungkin terasa sedikit birokratis, tapi di tengah badai permintaan dana, sistem berlapis adalah dinding pertahanan terbaik Anda. Tujuannya bukan untuk menghalangi kerja tim, tapi untuk memastikan setiap rupiah yang keluar sudah melalui proses berpikir yang matang dan bisa dipertanggungjawabkan.

 

Disiplin Budget di Musim Ramai

Disiplin itu mudah diucapkan tapi sulit dilakukan, terutama saat uang masuk sedang deras-derasnya. Disiplin budget berarti kita tetap setia pada rencana awal yang sudah dibuat sebelum Ramadan dimulai. Jika dari awal kita sepakat budget marketing hanya 10% dari proyeksi omzet, maka jangan tiba-tiba naik jadi 20% hanya karena panik melihat kompetitor iklan besar-besaran.

 

Seringkali godaan datang dalam bentuk "peluang mendadak". Misalnya ada tawaran iklan di lokasi strategis tapi harganya selangit dan harus bayar sekarang. Di sinilah disiplin diuji. Tanpa rencana matang, pengeluaran impulsif seperti ini seringkali tidak memberikan hasil yang sebanding (ROI rendah).

 

Kunci dari disiplin adalah pemantauan harian. Jangan menunggu akhir bulan untuk mengecek pengeluaran. Setiap minggu, bandingkan pengeluaran nyata dengan rencana awal. Jika ada satu tim yang sudah hampir menghabiskan jatah bulannya di minggu kedua, segera lakukan evaluasi. Jangan berikan tambahan dana kecuali mereka bisa membuktikan ada alasan yang sangat darurat dan logis. Ingat, bisnis yang hebat bukan bisnis yang paling banyak menghabiskan uang untuk pamer, tapi bisnis yang paling disiplin mengelola sumber dayanya untuk tumbuh secara sehat dan stabil dalam jangka panjang.

 

Peran CFO / Finance Lead

Dalam situasi "perang" permintaan budget, peran CFO (Chief Financial Officer) atau pimpinan keuangan adalah menjadi suara logika di tengah keriuhan. Jika semua orang di perusahaan bertindak sebagai penambah kecepatan (akselerator), maka orang keuangan adalah sistem pengereman yang memastikan kendaraan tidak lepas kendali.

 

Seorang pemimpin keuangan tidak boleh hanya sekadar "tukang catat" atau "penolak permintaan". Perannya lebih strategis: dia harus bisa menjelaskan kenapa suatu permintaan ditolak atau diterima. CFO harus punya data real-time mengenai posisi kas perusahaan. Dia harus berani menghadapi manajer operasional yang marah karena permintaannya ditunda, dengan cara menunjukkan proyeksi risiko keuangan jika dana tersebut tetap dikeluarkan.

 

Selain itu, CFO berperan sebagai jembatan antara strategi bisnis dan eksekusi uang. Dia harus membantu tim lain mencari cara agar target tetap tercapai namun dengan biaya yang lebih efisien. Misalnya, jika tim promosi minta budget besar, CFO bisa menyarankan pengalihan dana dari pos lain yang kurang produktif. Intinya, CFO adalah penjaga gawang profit. Dia memastikan bahwa setelah euforia Ramadan dan Lebaran usai, perusahaan tetap memiliki fondasi keuangan yang kuat untuk menghadapi sisa tahun dengan tenang.

 

Komunikasi dengan Tim Operasional

Salah satu pemicu ketegangan di kantor saat musim ramai adalah buruknya komunikasi antara tim keuangan dan tim operasional. Tim operasional merasa keuangan terlalu pelit dan menghambat kerja, sementara tim keuangan merasa operasional terlalu boros dan tidak mengerti sulitnya cari uang.

 

Cara terbaik mengatasinya adalah dengan komunikasi yang transparan dan empati. Tim keuangan harus turun ke lapangan untuk mengerti tantangan yang dihadapi operasional. Sebaliknya, tim operasional harus diberikan gambaran tentang kondisi kesehatan keuangan perusahaan secara umum. Jangan cuma bilang "nggak ada budget", tapi jelaskan "kita punya budget Rp 100 juta, dan kita harus bagi untuk lima kebutuhan ini, jadi kita perlu cari jalan tengah".

 

Gunakan bahasa yang sederhana. Ajak tim operasional berdiskusi tentang cara menekan biaya tanpa mengorbankan kualitas. Misalnya, "Gimana kalau kita nggak pakai tenaga tambahan, tapi kita kasih insentif lembur buat tim yang ada sekarang? Masih lebih hemat dan tim kita juga senang dapat tambahan uang". Ketika tim operasional merasa dilibatkan dan dimengerti, mereka akan lebih kooperatif dalam menjalankan efisiensi. Komunikasi dua arah ini akan mengubah suasana "rebutan budget" menjadi suasana "kerjasama tim" untuk menjaga keberlangsungan perusahaan.

 

Kesimpulan

Mengatur prioritas pengeluaran saat semua tim minta budget memang bukan pekerjaan yang mudah, apalagi di musim penuh tekanan seperti Ramadan. Namun, intinya kembali pada satu hal: Keseimbangan. Bisnis harus tetap berjalan dengan lincah untuk menangkap peluang, tapi juga harus punya akar keuangan yang kuat agar tidak mudah goyah.

 

Kunci suksesnya adalah memiliki sistem yang jelas: skala prioritas yang tegas, sistem approval yang bertanggung jawab, dan disiplin yang tak tergoyahkan. Jangan biarkan euforia penjualan menutupi mata kita dari kebocoran biaya yang tidak perlu. Ingatlah bahwa profit yang sesungguhnya bukan angka yang terlihat di mesin kasir hari ini, tapi angka yang tersisa di rekening bank perusahaan setelah semua kewajiban dan biaya dibayarkan.

 

Dengan melibatkan semua tim, berkomunikasi secara transparan, dan menempatkan CFO atau pemimpin keuangan sebagai kompas strategis, bisnis Anda tidak hanya akan selamat melewati musim Ramadan, tapi akan keluar sebagai pemenang yang lebih sehat secara finansial. Selamat mengatur strategi, pastikan setiap pengeluaran adalah investasi untuk masa depan, bukan sekadar biaya untuk masa sekarang.


Apakah Anda siap untuk menguasai strategi keuangan bisnis yang efektif dan mengubah nasib bisnis Anda? Ikuti e-course "Jurus Keuangan Bisnis" kami sekarang dan temukan rahasia sukses finansial yang berkelanjutan! klik di sini









Comments


PT Cerdas Keuangan Bisnis berdiri sejak 2023

© 2025 @Ilmukeuangan

bottom of page