top of page

Mengatur Shift dan Lembur di Awal Ramadan dari Sisi Keuangan

Pengantar: Lonjakan Aktivitas Operasional

Memasuki awal Ramadan, dinamika bisnis biasanya berubah drastis, terutama di sektor F&B, ritel, dan logistik. Ada fenomena unik di mana pola konsumsi masyarakat bergeser. Siang hari mungkin terlihat tenang, tapi begitu mendekati waktu berbuka hingga malam hari, aktivitas operasional bisa melonjak berkali-kali lipat. Bagi pemilik bisnis, ini adalah momen "panen", tapi sekaligus menjadi tantangan besar dalam hal manajemen operasional.

 

Bayangkan sebuah restoran yang biasanya ramai di jam makan siang, tiba-tiba harus menghadapi tumpukan pesanan yang masuk secara bersamaan hanya dalam jendela waktu dua jam sebelum Maghrib. Lonjakan aktivitas ini membutuhkan kesiapan tim yang ekstra. Masalahnya, dari sisi keuangan, lonjakan ini seringkali tidak dibarengi dengan perencanaan sumber daya manusia (SDM) yang matang. Akibatnya, banyak bisnis yang kaget karena mendadak harus mengeluarkan banyak uang untuk biaya operasional tambahan.

 

Lonjakan ini bukan hanya soal melayani pelanggan, tapi juga soal bagaimana bisnis mengelola arus barang dan jasa dalam waktu yang lebih singkat. Di awal Ramadan, orang cenderung ingin segalanya cepat agar bisa berbuka tepat waktu atau segera beribadah. Tekanan ini membuat operasional harus berjalan lebih kencang. Jika tidak diatur, lonjakan ini akan menciptakan kekacauan: antrean panjang, pelanggan kecewa, dan staf yang kelelahan. Dari kacamata keuangan, ketidaksiapan ini adalah kebocoran. Setiap detik keterlambatan atau setiap kesalahan pesanan akibat operasional yang kewalahan adalah kerugian nyata. Oleh karena itu, memahami pola lonjakan di awal Ramadan adalah langkah pertama bagi keuangan untuk menentukan berapa banyak "amunisi" atau biaya yang harus disiapkan agar lonjakan ini menjadi keuntungan, bukan malah jadi beban yang menguras kas perusahaan.

 

Biaya Lembur dan Dampaknya

Lembur seringkali dianggap sebagai solusi instan paling mudah ketika aktivitas bisnis sedang padat-padatnya di bulan Ramadan. "Tinggal minta staf kerja lebih lama, beres," begitu pikir banyak pengusaha. Tapi tunggu dulu, kalau kita bicara dari sisi keuangan, lembur adalah salah satu komponen biaya paling mahal dan paling berisiko membengkak tanpa kendali.

 

Kenapa biaya lembur itu berat? Pertama, tarif lembur itu lebih mahal daripada jam kerja reguler. Secara regulasi, ada perhitungan progresif di mana jam pertama dan jam-jam berikutnya memiliki pengali yang berbeda. Jika Anda memiliki 20 karyawan yang semuanya lembur 2 jam setiap hari selama awal Ramadan, angka yang muncul di laporan keuangan akhir bulan bisa sangat mengejutkan. Biaya ini seringkali tidak terlihat di awal karena dianggap "perlu", padahal lembur yang tidak terencana adalah indikasi bahwa pembagian kerja tidak efisien.

 

Dampak lembur bukan hanya soal angka di slip gaji. Ada dampak domino yang lebih berbahaya: penurunan produktivitas dan kenaikan risiko kesalahan. Staf yang bekerja terlalu lama di bulan puasa, di mana kondisi fisik mereka mungkin tidak sebugar biasanya, akan lebih mudah lelah. Karyawan yang kelelahan lebih mungkin melakukan kesalahan—salah hitung kasir, salah kirim barang, atau layanan yang tidak ramah. Dari sisi keuangan, kesalahan ini berujung pada biaya tambahan (biaya ganti rugi atau kehilangan pelanggan). Selain itu, lembur yang berlebihan bisa menyebabkan burnout, yang ujung-ujungnya meningkatkan risiko karyawan jatuh sakit atau bahkan mengundurkan diri. Biaya rekrutmen karyawan baru jauh lebih mahal daripada mengatur jadwal dengan benar. Jadi, lembur harus dilihat sebagai pilihan terakhir, bukan kebiasaan, agar arus kas perusahaan tetap sehat selama bulan suci.

 

Studi Kasus Biaya Tenaga Kerja Membengkak

Mari kita lihat contoh nyata, sebut saja "Restoran Berkah". Di awal Ramadan tahun lalu, pemiliknya merasa senang karena pesanan take-away dan reservasi buka bersama melonjak 40%. Tanpa perhitungan matang, dia meminta semua karyawannya masuk dari pagi hingga malam, dengan sistem lembur setiap hari agar semua pesanan tertangani. Hasilnya? Penjualan memang naik tinggi, tapi saat penutupan buku di akhir bulan, pemiliknya kaget karena keuntungan bersihnya justru lebih kecil dibanding bulan biasa. Kenapa bisa begitu?

 

Setelah dibedah, ternyata biaya tenaga kerja (labor cost) melonjak hingga 60% akibat upah lembur yang tidak terkontrol. Karyawan bagian dapur bekerja dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam tanpa jeda yang jelas. Karena sistemnya lembur, tarif upah yang dibayar menjadi sangat mahal. Belum lagi, karena karyawan terlalu lelah, terjadi banyak pemborosan bahan baku (salah potong, makanan gosong) yang menambah beban biaya produksi. Ini adalah pelajaran berharga bahwa omzet besar tidak menjamin profit besar jika biaya SDM-nya "bocor".

 

Kasus lain terjadi di sebuah gudang distribusi e-commerce. Di awal Ramadan, mereka memaksakan staf lama untuk lembur habis-habisan demi mengejar target pengiriman paket lebaran lebih awal. Hasilnya, karena kelelahan, angka kecelakaan kerja meningkat dan banyak barang yang salah kirim. Perusahaan harus membayar biaya pengobatan dan ongkos kirim ulang. Studi kasus ini menunjukkan bahwa memaksakan kapasitas staf yang ada melalui jalur lembur seringkali menciptakan "biaya tersembunyi" yang jauh lebih besar daripada upah lembur itu sendiri. Ujung-ujungnya, margin keuntungan yang seharusnya bisa dinikmati malah habis untuk menutupi inefisiensi operasional. Dari sini kita belajar bahwa manajemen keuangan di bulan Ramadan harus selaras dengan manajemen SDM agar kenaikan aktivitas benar-benar berbuah cuan, bukan sekadar sibuk yang merugi.

 

Penjadwalan Shift yang Efisien

Kunci utama agar keuangan tidak jebol saat awal Ramadan adalah pada penjadwalan shift yang cerdas. Kita harus sadar bahwa di bulan ini, beban kerja tidak merata sepanjang hari. Strategi "masuk bareng, pulang bareng" sudah tidak relevan lagi. Penjadwalan shift yang efisien artinya menaruh jumlah orang yang tepat di waktu yang paling sibuk, dan meminimalkan jumlah orang di waktu yang sepi.

 

Misalnya, jika Anda menjalankan bisnis ritel, Anda bisa menerapkan sistem split shift atau shift tumpang tindih. Kurangi jumlah staf di pagi hingga siang hari saat pelanggan jarang datang. Fokuskan kekuatan tim maksimal pada pukul 15.00 hingga 20.00. Dengan cara ini, Anda tidak perlu membayar lembur karena jam kerja mereka tetap 8 jam, hanya saja jam mulainya yang digeser lebih siang. Dari sisi keuangan, ini sangat menguntungkan karena Anda memaksimalkan setiap rupiah yang dikeluarkan untuk gaji reguler tanpa harus menyentuh anggaran lembur yang mahal.

 

Selain itu, penjadwalan yang baik juga harus mempertimbangkan waktu istirahat untuk berbuka dan salat Tarawih bagi karyawan. Jika jadwal diatur sedemikian rupa sehingga staf bisa bergantian berbuka tanpa menghentikan operasional, bisnis tetap berjalan lancar dan staf tetap bahagia. Kebahagiaan staf ini penting karena orang yang merasa dihargai waktunya akan bekerja lebih efisien. Secara finansial, efisiensi ini berarti rasio biaya tenaga kerja terhadap penjualan tetap terjaga di angka yang sehat. Penjadwalan shift bukan cuma soal mengatur jam, tapi soal memetakan kebutuhan operasional terhadap kemampuan finansial perusahaan agar tidak ada jam kerja yang terbuang sia-sia atau terbayar terlalu mahal tanpa ada output yang sebanding.

 

Lembur vs Penambahan Jam Kerja

Banyak yang bingung, mana yang lebih menguntungkan: membayar lembur karyawan tetap atau menambah jam kerja dengan mengambil tenaga kerja harian/part-time selama Ramadan? Dari kacamata akuntansi biaya, jawabannya seringkali mengejutkan. Membayar lembur karyawan tetap mungkin terasa praktis karena mereka sudah ahli, tapi secara biaya, pengalinya sangat tinggi. Di sisi lain, menambah jam kerja melalui perekrutan tenaga tambahan sementara (freelancer) seringkali jauh lebih murah secara total biaya per jam.

 

Mari kita hitung sederhana. Karyawan tetap yang lembur dibayar dengan tarif gaji pokok plus pengali lembur. Sementara tenaga tambahan biasanya dibayar dengan upah flat per hari atau per jam tanpa ada kewajiban tunjangan jangka panjang. Untuk pekerjaan yang sifatnya teknis sederhana—seperti membungkus paket, mengantar makanan, atau mencuci piring—menambah orang jauh lebih efisien secara finansial daripada memaksa staf ahli untuk lembur. Staf ahli Anda sebaiknya difokuskan pada kualitas, sementara lonjakan volume pekerjaan ditangani oleh tenaga tambahan.

 

Namun, keputusan ini juga harus melihat aspek "biaya pelatihan". Kalau pekerjaannya sangat spesifik dan butuh keahlian tinggi, menambah orang baru justru bisa menghambat karena mereka butuh waktu belajar, yang artinya ada waktu terbuang. Jadi, strateginya adalah: gunakan lembur untuk posisi kunci yang tidak bisa digantikan dalam waktu singkat, tapi gunakan penambahan tenaga kerja (jam kerja tambahan dari orang baru) untuk posisi pendukung. Dengan membagi strategi ini, kas perusahaan tidak akan habis untuk membayar tagihan lembur yang membengkak di akhir bulan. Pengusaha yang cerdas keuangan akan selalu membandingkan antara cost of overtime vs cost of part-timers sebelum memutuskan bagaimana menangani lonjakan kerja di awal Ramadan.

 

Produktivitas per Jam Kerja

Di bulan Ramadan, kita harus jujur bahwa energi manusia terbatas. Bekerja sambil berpuasa tentu berbeda dengan hari biasa. Oleh karena itu, keuangan tidak boleh hanya melihat "berapa jam karyawan berada di kantor", tapi harus melihat "berapa banyak hasil yang didapat per jam kerja". Inilah yang disebut produktivitas per jam kerja. Kalau karyawan masuk 8 jam tapi 3 jam terakhir mereka sudah tidak produktif karena lemas, berarti perusahaan sedang mengalami kerugian produktivitas.

 

Dari sisi keuangan, kita ingin memastikan setiap rupiah gaji yang dibayarkan menghasilkan output yang maksimal. Caranya adalah dengan mengatur intensitas kerja. Tugas-tugas yang berat atau membutuhkan konsentrasi tinggi sebaiknya dilakukan di pagi hari saat energi masih penuh setelah sahur. Di sore hari, saat energi mulai menurun, staf bisa dialokasikan untuk tugas-tugas yang lebih ringan atau administratif. Dengan mengatur jenis pekerjaan berdasarkan tingkat energi, produktivitas per jam akan tetap stabil.

 

Mengapa metrik ini penting bagi dompet perusahaan? Karena jika produktivitas rendah, Anda akan cenderung merasa "kekurangan orang" dan akhirnya tergoda untuk menambah lembur atau menambah staf baru. Padahal, masalahnya bukan di jumlah orang, tapi di cara mereka bekerja. Dengan mengoptimalkan jam-jam produktif, Anda bisa menyelesaikan volume pekerjaan yang sama dengan orang yang lebih sedikit atau waktu yang lebih singkat. Inilah efisiensi yang sebenarnya. Keuangan yang sehat di masa Ramadan didukung oleh tim yang mungkin bekerja lebih sedikit jamnya, tapi menghasilkan output yang lebih banyak per jamnya. Fokuslah pada hasil, bukan pada lamanya mereka duduk di meja kerja.

 

Kontrol Biaya SDM

Mengontrol biaya SDM di awal Ramadan adalah tentang kedisiplinan dalam mengelola anggaran. Banyak bisnis yang gagal karena mereka baru sadar biayanya membengkak saat tagihan gaji keluar di akhir bulan. Kontrol biaya harus dilakukan secara real-time atau setidaknya mingguan. Anda harus punya pagu (plafon) anggaran untuk biaya tenaga kerja tambahan dan lembur yang tidak boleh dilewati tanpa persetujuan khusus.

 

Langkah pertama dalam kontrol biaya adalah verifikasi. Pastikan setiap jam lembur yang dilakukan benar-benar ada outputnya dan disetujui oleh manajer terkait. Jangan sampai ada "lembur gaib" di mana karyawan hanya sekadar nongkrong menunggu waktu berbuka tapi mencatatkan itu sebagai lembur. Kedua, pantau rasio labor cost terhadap total pendapatan. Jika target pendapatan tercapai tapi rasio biaya SDM meningkat, berarti ada masalah dalam manajemen shift atau penggunaan lembur.

 

Selain itu, kontrol biaya juga bisa dilakukan dengan cara memberikan kompensasi non-tunai jika memungkinkan dan disepakati. Misalnya, alih-alih uang lembur yang besar (jika di luar aturan wajib pemerintah), perusahaan bisa memberikan kompensasi berupa tambahan hari cuti setelah lebaran atau paket sembako yang nilainya lebih terjangkau bagi perusahaan namun sangat berharga bagi karyawan. Namun, pastikan ini tetap dalam koridor hukum tenaga kerja yang berlaku. Kontrol biaya yang ketat bukan berarti pelit, tapi berarti memastikan bahwa setiap pengeluaran untuk manusia benar-benar berkontribusi pada kelangsungan bisnis selama masa Ramadan yang sibuk ini. Bisnis yang kuat adalah bisnis yang tahu ke mana setiap rupiah gajinya pergi.

 

Tools Monitoring Jam Kerja

Di zaman sekarang, memantau jam kerja pakai cara manual atau absen kertas sudah sangat berisiko, apalagi di bulan Ramadan yang serba cepat. Anda butuh tools monitoring jam kerja digital. Mengapa ini penting bagi keuangan? Karena data digital itu akurat dan sulit dimanipulasi. Dengan aplikasi absen GPS atau face recognition, perusahaan tahu persis kapan staf mulai bekerja dan kapan mereka selesai. Data ini bisa langsung dikonversi menjadi angka biaya lembur secara otomatis.

 

Tools ini sangat membantu dalam memantau "shift tumpang tindih". Anda bisa melihat secara real-time apakah di jam 4 sore sudah terlalu banyak orang di toko atau malah kurang. Jika data menunjukkan jumlah staf berlebihan di jam sepi, manajer bisa langsung melakukan penyesuaian untuk hari berikutnya. Tanpa tools ini, keuangan hanya akan menebak-nebak, dan tebakan biasanya meleset yang berujung pada pemborosan.

 

Selain itu, tools monitoring jam kerja biasanya punya fitur analitik. Anda bisa melihat tren: departemen mana yang paling sering lembur di awal Ramadan? Apakah lembur tersebut berbanding lurus dengan kenaikan penjualan di departemen itu? Jika departemen gudang lembur terus tapi pengiriman tetap lambat, berarti ada inefisiensi proses, bukan kekurangan orang. Jadi, investasi kecil di aplikasi monitoring sebenarnya adalah langkah besar untuk menghemat jutaan rupiah biaya tenaga kerja. Data adalah sahabat terbaik manajer keuangan. Dengan tools yang tepat, Anda tidak akan lagi mengalami "drama" selisih hitungan upah lembur di akhir bulan yang seringkali merusak hubungan antara manajemen dan karyawan.

 

Tips Menghindari Overstaffing

Overstaffing adalah kondisi di mana Anda punya terlalu banyak staf yang bekerja di waktu yang salah, sehingga mereka hanya banyak menganggur tapi tetap dibayar. Di bulan Ramadan, ini sering terjadi karena pengusaha takut ketinggalan momen lonjakan pelanggan, sehingga mereka menyuruh semua orang masuk. Padahal, dari sisi keuangan, overstaffing adalah pembunuh profit yang diam-diam.

 

Tips pertama untuk menghindari ini adalah dengan melihat data historis tahun lalu. Kapan jam tersibuk Anda? Jika tahun lalu lonjakan baru terjadi pukul 4 sore, jangan paksa semua orang masuk jam 8 pagi. Gunakan data untuk memprediksi kebutuhan orang. Tips kedua, gunakan tenaga kerja yang fleksibel. Misalnya, jika Anda butuh tenaga tambahan hanya untuk jam berbuka, carilah orang yang mau bekerja paruh waktu hanya untuk 3-4 jam saja, alih-alih merekrut orang untuk satu shift penuh (8 jam).

 

Tips ketiga adalah melatih staf untuk bisa melakukan berbagai tugas (multi-tasking). Jika staf kasir sedang sepi, dia bisa membantu merapikan stok atau membantu di bagian packing. Dengan staf yang bisa banyak hal, Anda tidak perlu merekrut banyak orang khusus. Cukup sedikit orang, tapi efektif. Mengurangi overstaffing bukan berarti memeras tenaga karyawan, tapi memastikan bahwa setiap staf yang hadir benar-benar memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Bagi keuangan, setiap orang yang masuk kerja adalah "investasi", dan investasi harus menghasilkan return. Jangan biarkan kas perusahaan habis untuk membayar orang yang hanya duduk-duduk karena memang tidak ada pelanggan di jam tersebut.

 

Kesimpulan

Mengelola shift dan lembur di awal Ramadan bukan hanya tugas HR, tapi merupakan strategi keuangan yang krusial. Lonjakan aktivitas operasional adalah peluang emas untuk meningkatkan keuntungan, namun peluang ini bisa berubah menjadi kerugian jika tidak dikelola dengan perhitungan biaya tenaga kerja yang matang. Lembur memang bisa menjadi solusi cepat, namun dampak biayanya yang mahal dan risiko penurunan produktivitas menjadikannya pilihan yang harus digunakan dengan sangat bijaksana.

 

Keuangan yang sehat selama Ramadan dicapai melalui kombinasi antara penjadwalan shift yang efisien, kontrol biaya yang ketat, dan penggunaan teknologi untuk monitoring. Bisnis harus mampu membedakan kapan harus menggunakan lembur dan kapan harus menambah tenaga kerja tambahan agar rasio biaya tetap terjaga. Ingatlah bahwa profitabilitas bukan hanya soal seberapa besar omzet yang masuk, tapi seberapa efisien Anda mengelola pengeluaran, terutama di komponen biaya SDM yang seringkali tidak terduga.

 

Sebagai penutup, awal Ramadan adalah waktu untuk melakukan penyesuaian. Jangan kaku dengan sistem kerja lama. Beradaptasilah dengan pola konsumsi pelanggan dan kondisi fisik karyawan. Dengan perencanaan yang baik, Anda tidak hanya akan mendapatkan berkah secara spiritual, tapi juga secara finansial. Bisnis yang berkelanjutan adalah bisnis yang mampu menyeimbangkan antara operasional yang produktif dan pengeluaran yang terkontrol, sehingga saat Lebaran tiba, perusahaan memiliki dana yang cukup untuk berkembang, bukan sekadar "napas megap-megap" karena kehabisan kas.


Tingkatkan kinerja keuangan bisnis Anda dengan workshop "Smart Financial Map"! Daftar sekarang di www.smartfinancialmap.com dan kuasai strategi finansial cerdas untuk bisnis yang lebih sukses. Ambil langkah pasti menuju kesuksesan bisnis Anda hari ini!







Comments


PT Cerdas Keuangan Bisnis berdiri sejak 2023

© 2025 @Ilmukeuangan

bottom of page