Mengelola Biaya Marketing dari Sisi Keuangan
- Ilmu Keuangan

- 7 minutes ago
- 10 min read

Pengantar: Marketing dan Keuangan
Seringkali dalam sebuah perusahaan, orang marketing dan orang keuangan itu seperti punya "bahasa" yang berbeda. Orang marketing fokusnya adalah kreativitas, branding, dan bagaimana cara supaya produk dikenal banyak orang. Sementara itu, orang keuangan fokusnya adalah angka, efisiensi, dan profitability. Kalau tidak dikelola dengan baik, hubungan kedua divisi ini bisa jadi tegang. Orang marketing merasa "dibatasi" kreativitasnya, sedangkan orang keuangan merasa marketing cuma tahu cara "bakar uang" tanpa hasil yang jelas.
Namun, di era bisnis modern, kedua sisi ini harus berjalan beriringan. Marketing bukan lagi sekadar biaya atau pengeluaran (expense), melainkan sebuah investasi. Bayangkan Anda menanam benih di ladang; biaya marketing adalah air dan pupuknya. Tanpa itu, benih tidak akan tumbuh. Tapi kalau airnya kebanyakan tanpa strategi, benihnya malah busuk. Di sinilah peran sudut pandang keuangan masuk: memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan untuk marketing punya tujuan yang jelas dan bisa diukur hasilnya.
Mengelola biaya marketing dari sisi keuangan artinya kita mulai bicara tentang efisiensi. Kita tidak lagi asal pasang iklan karena "keren" atau ikut-ikutan tren. Kita mulai bertanya: "Kalau saya kasih kamu 10 juta, berapa banyak pelanggan baru yang bisa kita dapatkan?" atau "Apakah branding yang kita lakukan bulan ini benar-benar berdampak pada kenaikan omzet di bulan depan?".
Hubungan yang sehat antara marketing dan keuangan akan menciptakan bisnis yang stabil. Keuangan memberikan koridor atau batasan budget yang aman bagi arus kas perusahaan, sementara marketing menggunakan budget tersebut secara cerdas untuk mendatangkan pertumbuhan. Jadi, poin utamanya bukan tentang siapa yang lebih penting, tapi bagaimana keduanya berkolaborasi supaya uang perusahaan tidak terbuang sia-sia dan bisnis bisa terus berkembang.
Studi Kasus: Marketing Boros Tapi Tidak Efektif
Ada banyak cerita tentang perusahaan yang tumbang bukan karena produknya jelek, tapi karena mereka terlalu bernafsu melakukan marketing "bakar uang" tanpa strategi keuangan yang matang. Coba kita lihat contoh sebuah startup atau bisnis lokal yang baru dapat modal besar. Karena merasa punya banyak uang di bank, mereka langsung pasang baliho di mana-mana, sewa influencer papan atas, dan kasih diskon gede-gedean setiap hari.
Hasilnya? Memang betul, orang jadi tahu produk mereka. Pengguna aplikasi naik drastis, antrean di toko membludak. Tapi masalahnya muncul saat orang keuangan mulai mengecek pembukuan. Ternyata, biaya untuk mendapatkan satu orang pembeli itu jauh lebih mahal daripada keuntungan yang didapatkan dari pembeli tersebut. Misalnya, untuk narik satu orang makan di restoran, pemilik keluar biaya marketing 50 ribu rupiah (lewat iklan dan diskon), padahal orang itu cuma belanja 40 ribu. Itu namanya "jual rugi" yang tidak berkelanjutan.
Inilah yang disebut marketing boros tapi tidak efektif. Mereka fokus pada vanity metrics atau angka yang kelihatan bagus di permukaan (seperti jumlah followers, likes, atau orang yang datang), tapi tidak fokus pada conversion yang menghasilkan profit. Begitu budget marketing habis atau modal dari investor menipis, bisnis tersebut langsung sepi karena pelanggannya cuma datang karena ada diskon, bukan karena loyal.
Pelajaran dari studi kasus ini adalah pentingnya memiliki "rem" dari sisi keuangan. Sebelum meluncurkan kampanye marketing besar-besaran, kita harus menghitung dulu kapasitas bisnis kita. Apakah kita sanggup menangani ledakan pelanggan? Apakah profit margin kita cukup untuk menutup biaya iklan? Jangan sampai kita sibuk "membakar uang" untuk memanaskan mesin bisnis, tapi malah apinya membakar habis seluruh gudang kita sendiri. Marketing yang hebat adalah yang bisa mendatangkan profit, bukan sekadar keramaian sesaat.
Cara Menetapkan Budget Marketing
Menetapkan budget marketing itu tidak boleh pakai sistem "kira-kira" atau sekadar menghabiskan sisa uang yang ada di laci. Ada beberapa cara yang biasa dipakai dari kacamata keuangan supaya budget-nya masuk akal.
Pertama, ada metode Persentase dari Pendapatan. Ini cara paling umum. Misalnya, perusahaan menetapkan 10% dari omzet bulan lalu untuk budget marketing bulan depan. Kelebihannya, budget marketing Anda akan selalu sejalan dengan kemampuan keuangan perusahaan. Kalau penjualan naik, budget naik. Kalau lagi turun, ya harus hemat. Ini aman untuk arus kas, tapi kekurangannya adalah Anda mungkin jadi kurang agresif saat justru pasar lagi butuh didorong.
Kedua, ada metode Tujuan dan Tugas. Di sini, kita tidak lihat omzet, tapi lihat target. Misalnya, "Bulan depan saya mau dapat 500 pembeli baru." Orang marketing lalu menghitung, untuk dapat 500 orang itu butuh biaya berapa. Hasil hitungan itulah yang jadi budget. Ini sangat efektif kalau Anda punya target pertumbuhan yang jelas, tapi orang keuangan harus teliti melihat apakah perusahaan punya dana tunai yang cukup untuk mendukung rencana tersebut.
Ketiga, ada metode Kompetitif. Anda melihat berapa banyak saingan Anda mengeluarkan uang untuk iklan, lalu Anda mencoba menyamainya. Ini agak berisiko karena belum tentu kondisi keuangan saingan Anda sama dengan Anda. Jangan-jangan mereka punya modal besar yang siap rugi, sementara Anda tidak.
Cara terbaik biasanya adalah kombinasi. Mulailah dengan melihat berapa banyak margin keuntungan yang bisa Anda "ikhlaskan" untuk marketing tanpa membuat perusahaan merugi. Tetapkan angka yang realistis. Jangan lupa untuk menyisihkan sebagian kecil budget untuk "eksperimen"—mencoba channel baru yang belum tentu berhasil, tapi bisa jadi peluang besar di masa depan. Menetapkan budget adalah tentang menemukan titik keseimbangan antara ambisi untuk tumbuh dan realitas saldo di bank.
Cost per Acquisition (CPA)
Dalam dunia marketing modern, Cost per Acquisition (CPA) adalah salah satu angka paling sakral bagi orang keuangan. Sederhananya, CPA adalah biaya yang Anda keluarkan untuk "membeli" satu orang pelanggan baru. Rumusnya gampang: Total biaya marketing dibagi dengan jumlah pelanggan baru yang didapat.
Misalnya, Anda habis 10 juta untuk iklan Facebook selama sebulan, dan dari iklan itu ada 100 orang yang benar-benar belanja. Artinya, CPA Anda adalah 100 ribu rupiah per pelanggan. Sekarang, pertanyaannya adalah: Apakah 100 ribu itu kemahalan atau murah? Nah, di sinilah orang keuangan mulai bekerja.
Kalau keuntungan bersih (profit) Anda dari satu pembeli cuma 20 ribu rupiah, tapi biaya untuk dapat dia (CPA) adalah 100 ribu, berarti Anda rugi 80 ribu per orang. Kecuali, orang itu bakal belanja berkali-kali di masa depan (yang kita sebut Customer Lifetime Value). Tapi kalau dia cuma beli sekali lalu hilang, bisnis Anda dalam bahaya besar.
Kenapa CPA penting? Karena CPA memberikan gambaran nyata tentang efisiensi tim marketing. Jika bulan ini CPA Anda 50 ribu dan bulan depan naik jadi 80 ribu padahal targetnya sama, berarti ada yang salah dengan iklannya atau channel yang dipilih mulai jenuh. Dari sisi keuangan, kita bisa menetapkan batas maksimal CPA. Misalnya, "Kita boleh keluar uang iklan, asalkan biaya per pelanggan baru tidak lebih dari 60 ribu."
Dengan mengetahui CPA, Anda jadi punya kendali. Anda tidak lagi bertanya "Iklan kita bagus nggak?" tapi Anda bertanya "Berapa biaya per orangnya?". Angka ini membantu Anda membuat keputusan yang logis: channel mana yang harus dimatikan karena terlalu mahal, dan channel mana yang harus ditambah budget-nya karena murah dan menghasilkan. CPA adalah alat ukur kejujuran dalam marketing.
ROI Marketing
Kalau CPA tadi bicara soal biaya per orang, Return on Investment (ROI) marketing bicara soal keuntungan total yang dihasilkan dari uang yang kita keluarkan. Ini adalah cara paling mutakhir bagi orang keuangan untuk menilai apakah divisi marketing sudah bekerja dengan baik atau belum.
Rumus sederhananya adalah: (Keuntungan dari Marketing - Biaya Marketing) / Biaya Marketing x 100%. Misalnya, Anda keluar biaya 10 juta untuk iklan, dan hasil dari iklan itu Anda dapat penjualan yang menghasilkan profit bersih 30 juta. Berarti (30 juta - 10 juta) / 10 juta = 2, atau ROI-nya adalah 200%. Artinya, setiap 1 rupiah yang Anda keluarkan, Anda dapat untung 2 rupiah kembali.
Dari sisi keuangan, ROI membantu kita melihat gambaran besar. Kadang ada channel marketing yang CPA-nya mahal, tapi pelanggannya belanja banyak banget, sehingga ROI-nya tetap tinggi. Sebaliknya, ada channel yang CPA-nya murah meriah, tapi pelanggan yang datang cuma "pemburu diskon" yang belanjanya sedikit, sehingga ROI-nya malah rendah.
Penting untuk diingat bahwa menghitung ROI marketing itu tidak selalu instan. Ada marketing yang hasilnya baru terasa 3 bulan kemudian (seperti SEO atau content marketing). Orang keuangan harus paham "jeda waktu" ini supaya tidak buru-buru memotong budget marketing yang sebenarnya lagi berproses menghasilkan untung.
ROI juga membantu membandingkan berbagai macam program. Misalnya, antara sewa baliho di jalan raya vs iklan di TikTok. Mana yang memberikan pengembalian lebih gede? Dengan fokus pada ROI, perdebatan antara marketing dan keuangan jadi lebih objektif karena semuanya berbasis data keuntungan. Fokus pada ROI berarti Anda memastikan bahwa marketing bukan sekadar pengeluaran, tapi benar-benar mesin penghasil uang bagi perusahaan.
Pembagian Budget Berdasarkan Channel
Tidak semua channel marketing diciptakan sama. Ada Facebook Ads, Google Ads, TikTok, Instagram, pasang spanduk, sewa influencer, sampai kirim email promosi. Kesalahan fatal yang sering dilakukan adalah membagi budget rata ke semua channel atau malah menaruh semua uang di satu tempat saja tanpa pengujian.
Dari sisi keuangan, pembagian budget harus mengikuti prinsip diversifikasi dan optimasi. Diversifikasi artinya jangan taruh semua telur di satu keranjang. Kalau semua budget Anda cuma di Instagram Ads, lalu tiba-tiba akun Anda kena banned atau algoritma Instagram berubah, bisnis Anda bisa langsung mati. Kita butuh beberapa channel yang bekerja bersamaan.
Lalu, ada prinsip optimasi. Ini artinya kita harus "pindah-pindah" uang ke channel yang kinerjanya paling bagus (lihat CPA dan ROI tadi). Misalnya, Anda punya budget 50 juta. Di bulan pertama, Anda bagi masing-masing 10 juta ke 5 channel berbeda. Setelah dicek di akhir bulan, ternyata Google Ads memberikan ROI paling tinggi, sementara sewa influencer hasilnya nol.
Bulan depan, Anda harus berani memotong budget influencer dan memindahkannya ke Google Ads. Orang keuangan sangat menyukai pola ini karena ini adalah pengelolaan modal yang cerdas. Kita tidak setia pada satu channel, kita setia pada hasil.
Pembagian budget juga harus mempertimbangkan "tahap" pelanggan. Ada budget untuk Awareness (supaya orang tahu), Consideration (supaya orang banding-bandingkan), dan Conversion (supaya orang langsung beli). Biasanya, orang keuangan lebih suka budget yang banyak di conversion karena hasilnya langsung kelihatan. Tapi jangan lupa, kalau tidak ada budget di awareness, lama-lama "kolam" calon pelanggan Anda akan kering. Jadi, pembagian budget adalah seni menyeimbangkan antara hasil instan hari ini dan investasi untuk hari esok.
Monitoring Campaign
Marketing itu bukan tipe pekerjaan "pasang lalu lupakan". Setelah budget cair dan iklan jalan, tugas paling berat justru dimulai: monitoring. Dari sisi keuangan, monitoring adalah bentuk pengendalian internal. Kita harus memastikan bahwa uang yang sudah keluar benar-benar dipakai sesuai rencana dan tidak "bocor" di tengah jalan.
Bayangkan Anda punya keran air. Monitoring adalah mengecek setiap sambungan pipa apakah ada yang menetes. Di dunia digital, monitoring bisa dilakukan setiap hari. Anda bisa lihat secara real-time berapa uang yang habis hari ini dan berapa klik atau penjualan yang masuk. Kalau ada kampanye iklan yang tiba-tiba biayanya melonjak tapi penjualannya nol, Anda bisa langsung mematikannya saat itu juga tanpa menunggu akhir bulan. Ini mencegah kerugian yang lebih besar.
Monitoring juga penting untuk melihat tren. Kadang sebuah channel marketing bagus di minggu pertama, tapi loyo di minggu ketiga karena orang sudah bosan lihat iklannya. Tanpa monitoring yang ketat, Anda akan terus membayar untuk iklan yang sudah tidak efektif lagi.
Laporan monitoring ini sebaiknya dibahas bersama antara tim marketing dan keuangan secara rutin, misalnya seminggu sekali. Orang marketing menjelaskan performa iklannya, orang keuangan mengecek kesesuaian dengan budget dan dampaknya ke arus kas. Dengan begini, tidak ada lagi kejutan buruk di akhir bulan di mana budget tiba-tiba jebol.
Monitoring yang baik juga menciptakan budaya akuntabilitas. Tim marketing jadi lebih hati-hati dan teliti karena mereka tahu setiap rupiah yang mereka gunakan akan dipantau hasilnya. Jadi, monitoring bukan untuk mencari kesalahan, tapi untuk memastikan bahwa kampanye marketing kita tetap berada di jalur yang benar menuju target yang sudah ditetapkan.
Mengurangi Biaya Tanpa Mengurangi Impact
Pertanyaan paling favorit dari orang keuangan kepada orang marketing adalah: "Bisa nggak budget-nya dipotong tapi penjualannya tetap sama atau malah naik?" Kedengarannya menyebalkan bagi tim marketing, tapi sebenarnya ini sangat mungkin dilakukan lewat proses efisiensi.
Caranya bukan dengan memotong budget secara asal-asalan, tapi dengan membuang yang tidak berguna. Pertama, kita cari "lemak" dalam marketing kita. Misalnya, iklan yang menyasar orang yang salah (salah target audiens). Kalau kita jualan jilbab tapi iklan kita muncul di akun cowok-cowok yang hobinya main game, itu namanya pemborosan. Dengan memperbaiki target audiens, kita bisa mengeluarkan uang lebih sedikit tapi dapat hasil yang lebih banyak.
Kedua, gunakan Organic Marketing dan Content. Alih-alih selalu bayar iklan untuk setiap orang yang datang, mulailah membangun aset digital seperti akun TikTok yang ramai, SEO di website, atau daftar email pelanggan. Membangun konten memang butuh waktu, tapi biaya jangka panjangnya jauh lebih murah daripada terus-menerus bayar iklan per klik.
Ketiga, fokus pada Customer Retention (menjaga pelanggan lama). Secara statistik, biaya untuk membuat pelanggan lama belanja lagi itu 5 sampai 7 kali lebih murah daripada mencari pelanggan baru. Jadi, daripada keluar uang banyak untuk iklan baru, mending kirim pesan WhatsApp atau email promosi ke pelanggan yang sudah pernah beli.
Keempat, lakukan A/B Testing. Coba dua versi iklan dengan budget kecil dulu. Mana yang gambarnya lebih disukai orang? Mana yang kata-katanya lebih bikin orang mau ngeklik? Dengan tahu versi mana yang terbaik, kita bisa fokuskan seluruh budget ke versi itu saja. Inilah inti dari poin ini: marketing cerdas itu bukan soal siapa yang paling banyak uangnya, tapi siapa yang paling pintar mengoptimalkan setiap receh yang dia punya.
Integrasi Marketing–Finance
Ini adalah puncak dari strategi pengelolaan biaya marketing. Integrasi artinya marketing dan finance bukan lagi dua divisi yang saling curiga, tapi menjadi satu kesatuan strategi bisnis. Orang finance diajak rapat saat tim marketing merancang kampanye, dan orang marketing diajak memahami laporan laba rugi perusahaan.
Kenapa integrasi ini penting? Supaya tidak ada mismatch. Misalnya, tim marketing bikin promo gila-gilaan "Beli 1 Gratis 1", penjualannya membludak, tapi ternyata setelah dihitung orang finance, promo itu malah bikin margin perusahaan jadi negatif (rugi) karena ada biaya operasional dan pengiriman yang lupa dihitung. Kalau mereka sudah integrasi di awal, hal ini tidak akan terjadi.
Integrasi juga memudahkan dalam hal pencairan budget. Kalau tim finance sudah paham strategi marketingnya, mereka tidak akan pelit saat marketing butuh tambahan budget mendadak untuk merespons peluang yang lagi viral, karena finance tahu hitung-hitungannya masuk akal.
Selain itu, integrasi ini membantu dalam penggunaan data yang sama. Tim marketing punya data perilaku konsumen, tim finance punya data biaya dan profit per produk. Kalau data ini digabung, perusahaan bisa tahu produk mana yang paling menguntungkan untuk diiklankan besar-besaran, dan produk mana yang mending "disimpan" dulu karena biaya marketingnya tidak nutup dengan profitnya.
Cara membangun integrasi ini sederhana: sering-seringlah ngobrol. Gunakan tools manajemen proyek yang bisa diakses kedua belah pihak. Buat KPI (target kinerja) yang saling berhubungan. Jika marketing berhasil mendatangkan profit (bukan cuma omzet), finance juga senang. Integrasi adalah kunci untuk mengubah perusahaan dari yang sekadar "jalan" menjadi perusahaan yang "berlari kencang" dengan efisiensi tinggi.
Kesimpulan
Mengelola biaya marketing dari sisi keuangan intinya adalah tentang akuntabilitas dan efisiensi. Kita harus berani mengubah pola pikir bahwa marketing adalah pusat biaya (cost center) menjadi pusat pertumbuhan (growth center). Uang yang kita keluarkan untuk marketing harus bisa dipertanggungjawabkan hasilnya, layaknya kita melakukan investasi di saham atau properti.
Poin-poin seperti menetapkan budget yang masuk akal, memantau CPA (biaya per pelanggan), menghitung ROI (pengembalian modal), hingga memilih channel yang tepat, semuanya bermuara pada satu tujuan: memastikan perusahaan bisa tumbuh tanpa harus bangkrut karena biaya promosi yang tak terkendali.
Ingatlah bahwa marketing yang paling sukses bukan yang paling viral atau paling keren iklannya, tapi yang paling sehat secara finansial. Bisnis yang hebat adalah yang tahu persis berapa uang yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pelanggan, dan tahu berapa lama pelanggan tersebut akan terus memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Jangan takut untuk bereksperimen, tapi jangan pernah berhenti memantau angka-angkanya. Marketing memberi kita "gas" untuk maju, dan keuangan memberi kita "instrumen di dashboard" untuk memastikan mesin tidak meledak dan bensin tidak habis di tengah jalan. Dengan sinergi yang baik antara strategi marketing yang kreatif dan pengelolaan keuangan yang disiplin, bisnis Anda bukan hanya akan dikenal banyak orang, tapi juga akan memiliki fondasi keuangan yang sangat kokoh untuk berkembang dalam jangka panjang. Tetaplah fokus pada data, tetaplah kreatif dalam cara, dan pastikan setiap rupiah bekerja keras untuk masa depan bisnis Anda.
Apakah Anda siap untuk menguasai strategi keuangan bisnis yang efektif dan mengubah nasib bisnis Anda? Ikuti e-course "Jurus Keuangan Bisnis" kami sekarang dan temukan rahasia sukses finansial yang berkelanjutan! klik di sini





Comments