Mengupas Keuangan Meruginya Mall Matahari dan Ramayana




Dampak pandemi virus corona (COVID-19) di berbagai sektor usaha, terutama industri ritel, semakin melemah. Dua peritel terbesar di Indonesia itu baru-baru ini melaporkan kinerja mereka selama enam bulan pertama, hanya merugi.


PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) merugi bersih Rp 357,87 miliar. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) juga merugi 55,3 miliar rupiah. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis dalam keterbukaan informasi, kinerja negatif LPFF disebabkan oleh turunnya total pendapatan sebesar 62% dari sebelumnya Rp 5,95 triliun menjadi Rp 2,25 triliun. Koreksi pendapatan terbesar berasal dari penjualan ritel yang naik dari Rp 3,81 triliun menjadi Rp 1,44 triliun, dan penjualan konsinyasi meningkat dari Rp 2,08 triliun menjadi Rp 76,07 miliar. Selain itu, total penjualan LPFF di semester I juga turun menjadi Rs 3,93 triliun, turun 62,7% dari periode yang sama tahun lalu, Laba bersih juga turun 62,1% menjadi Rs 2,25 triliun.


Hal yang sama terjadi di RALS. Menurut catatan, total pendapatan Ramayana pada semester I tahun 2020 turun menjadi Rp 1,47 triliun, dibandingkan dengan Rp 3,48 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Koreksi pendapatan terbesar berasal dari penjualan barang yang dibeli sebesar Rp 1,23 triliun, lebih rendah dari sebelumnya Rp 2,86 triliun. Selain itu, pendapatan dari komisi penjualan konsinyasi juga mengalami penyesuaian, dari pendapatan komisi sebelumnya sebesar Rp 627,1 miliar menjadi Rp 247,6 miliar.


Dalam menjalankan bisnis tak lepas dengan pasang surut keadaan, bisa jadi badai juga dapat kapan pun, itulah mengapa mengelola keuangan dengan baik adalah kunci untuk menjaga dan menyelamatkan usaha yang sedang dijalankan.


Ilmukeuangan.com akan membahas lebih lengkap tentang rahasia mengelola keluangan UMKM di E-course Jurus keuangan.

Dapatkan harga khusus hari ini.




14 views0 comments

Recent Posts

See All