top of page

Produk Laris Belum Tentu Paling Menguntungkan


Pengantar: Volume Penjualan Bisa Menipu

Pernah nggak, ngerasa bisnis lagi ramai-ramainya, barang yang kita jual laku keras tiap hari, tapi pas akhir bulan dicek rekening kok untungnya tipis banget? Nah, ini jebakan batman yang sering bikin pemilik usaha terkecoh. Penjualan yang membludak atau volume yang tinggi belum tentu bikin kantong kita tebal. 


Seringkali, kita capek mondar-mandir ngurusin stok dan pengiriman buat produk yang keliatannya laris, padahal setelah dihitung-hitung, keuntungan bersihnya kecil banget atau bahkan habis buat nutup biaya operasional. Di sinilah pentingnya kita nggak cuma silau sama angka penjualan yang besar, tapi juga wajib jeli melihat keuntungan riil yang masuk ke bisnis kita.


Margin per Produk

Biar nggak terkecoh sama barang yang laris, kita harus kenalan dulu sama yang namanya margin per produk. Gampangnya, margin itu selisih antara harga jual barang dikurangi sama modal atau biaya langsung untuk bikin atau kulakan produk tersebut. Kalau kita jual barang seharga seratus ribu rupiah dan modalnya delapan puluh ribu rupiah, berarti margin kotornya dua puluh ribu rupiah. 


Nah, tantangannya adalah kita sering lupa kalau tiap produk punya margin yang beda-beda. Ada produk yang kelihatannya biasa aja, tapi marginnya tebal. Sebaliknya, ada produk yang jadi best seller, tapi ternyata marginnya tipis banget. Mengetahui margin tiap produk ini jadi langkah awal paling penting biar kita tahu mana barang yang benar-benar kasih makan bisnis kita.


Volume vs Profit Contribution

Di dunia bisnis, sering banget terjadi perdebatan antara jualan banyak (volume) versus jualan untung (profit contribution). Produk yang laku ribuan pcs tiap bulan memang kelihatan hebat, tapi kalau kontribusi profitnya ke kas perusahaan kecil, kita cuma capek doang kerja rodi. Sebaliknya, ada produk yang mungkin lakunya cuma sedikit, tapi sekali terjual, keuntungannya langsung nutup banyak biaya. 


Di sinilah pentingnya menghitung profit contribution, yaitu total keuntungan yang disumbangkan oleh suatu produk setelah dikurangi biaya-biayanya. Jadi, jangan bangga dulu kalau produk kita laris manis kalau ternyata hasil akhirnya cuma numpang lewat di kas perusahaan tanpa ninggalin sisa yang berarti.


Studi Kasus: Produk Laris dengan Margin Tipis

Biar lebih kebayang, kita ambil contoh kasus nyata di lapangan. Bayangkan sebuah toko kuliner yang jualan es kopi susu kekinian seharga sepuluh ribu rupiah. Setiap hari, kopi ini laku sampai seribu gelas! Wah, omzetnya keliatan gede banget, kan? Tapi coba kita bedah di baliknya: harga bahan baku, cup plastik, sedotan, es batu, belum lagi bagi hasil sama kurir delivery online. 


Ternyata, bersihnya kita cuma pegang seribu rupiah per gelas. Bandingkan sama kue kering spesial yang sehari cuma laku sepuluh toples tapi untungnya limapuluh ribu per toples. Kopi tadi bikin operasional sibuk setengah mati, karyawan capek, tapi hasil akhirnya tipis banget dibanding kuenya yang santai tapi cuan. Inilah buktinya kalau produk paling laris belum tentu jadi pahlawan keuangan kita.


Menghitung Contribution Margin

Biar nggak asal tebak, kita wajib tahu cara ngitung contribution margin secara gampang. Rumusnya sebenarnya nggak ribet: ambil harga jual satu produk, terus kurangi sama biaya variabel atau biaya langsung yang habis dipakai buat bikin produk itu (kayak bahan baku dan kemasan). Hasil pengurangannya itu kita sebut contribution margin per unit. 


Kalau mau tahu totalnya, tinggal dikaliin sama jumlah produk yang berhasil terjual dalam sebulan. Lewat angka ini, kita jadi tahu secara pasti produk mana yang benar-benar jadi mesin pencetak uang buat bisnis kita, dan mana produk yang cuma jadi beban kerja tambahan tanpa hasil yang sepadan.


Mengidentifikasi Produk yang Merugikan

Pernah dengar istilah "menyusui produk"? Ini kejadian pas kita jualan barang yang kelihatannya laku, tapi sebenarnya malah bikin boncos alias rugi terselubung. Kok bisa? Karena kadang kita lupa ngitung biaya tersembunyi seperti sewa tempat khusus, retur barang, atau waktu tenaga kerja yang habis buat ngurusin produk tertentu. 


Kalau ditotal, biaya buat ngurusin produk itu malah lebih besar dari keuntungan penjualannya. Tugas kita sebagai pengusaha adalah tega buat ngecek laporan keuangan secara berkala, lalu mengidentifikasi produk-produk parasit kayak gini supaya nggak terus-terusan menggerogoti hasil kerja keras dari produk lain yang lebih potensial.


Strategi Product Mix

Kalau udah tahu mana produk yang untungnya tebel dan mana yang boncos, saatnya kita mainin strategi product mix atau bauran produk. Jangan cumaandalkan satu jenis barang aja, tapi kombinasikan beberapa produk dengan peran yang berbeda. Ada produk pancingan yang harganya murah meriah buat narik orang datang (walau untungnya tipis), disandingkan sama produk utama yang marginnya tebel buat cari cuan beneran. Dengan strategi bauran produk yang pas, toko kita tetap kelihatan lengkap dan menarik di mata pembeli, tapi di sisi lain, struktur pendapatan kita tetap sehat dan aman secara finansial.


Evaluasi Harga dan Biaya Produk

Kalau dari hasil evaluasi ternyata produk andalan kita marginnya masih tipis, jangan buru-buru dibuang atau ditutup. Coba kita bedah ulang dari dua sisi: harga jual dan biaya produksi. Apakah selama ini kita terlalu takut naikin harga karena takut ditinggal pelanggan? Atau jangan-jangan, kita beli bahan bakunya kemahalan karena nggak pintar cari supplier tangan pertama? Melakukan evaluasi berkala terhadap harga dan efisiensi biaya bisa jadi jalan keluar mujarab buat nyelamatkan produk yang tadinya kurang produktif jadi produk yang mendatangkan profit maksimal.


Menentukan Produk Prioritas

Setelah semua data dikumpulin, dihitung, dan dianalisis, langkah selanjutnya adalah menetapkan produk prioritas. Fokuskan energi, modal promosi, dan ruang pajang toko kita untuk produk-produk yang punya contribution margin paling sehat dan paling konsisten ngasih cuan. Bukan berarti produk lain dibuang total, tapi porsi perhatian kita harus lebih banyak dialokasikan ke produk yang benar-benar jadi tulang punggung bisnis. Dengan nentuin skala prioritas yang jelas, kerja kita jadi lebih terarah, efisien, dan nggak gampang capek cuma buat ngurusin omzet semu.


Kesimpulan: Fokus pada Produk yang Menghasilkan

Sebagai penutup, ingat satu prinsip penting: omzet besar itu cuma gengsi, tapi profit bersih itu baru bukti. Jangan sampai bisnis kita keliatan sibuk dan besar dari luar, tapi pas dihitung-hitung pemiliknya malah nombok atau capek sendiri tanpa hasil. Mulai sekarang, yuk beralih dari sekadar mengejar volume penjualan yang menipu, ke arah fokus menggenjot produk-produk yang benar-benar menghasilkan keuntungan nyata bagi kelangsungan bisnis kita. Bisnis yang sehat bukan yang paling ramai pembelinya, tapi yang paling pintar mengelola cuannya!


Tingkatkan kinerja keuangan bisnis Anda dengan workshop "Smart Financial Map"! Daftar sekarang di www.smartfinancialmap.com dan kuasai strategi finansial cerdas untuk bisnis yang lebih sukses. Ambil langkah pasti menuju kesuksesan bisnis Anda hari ini!






Comments


PT Cerdas Keuangan Bisnis berdiri sejak 2023

© 2025 @Ilmukeuangan

bottom of page