top of page

Sales Jalan, Operasional Jalan, Finance Harus Pegang Kendali

Pengantar: Konflik Klasik Antar Divisi

Pernah dengar nggak cerita tim Sales yang semangat banget jualan, tapi tim Finance malah sering cemberut? Atau tim Operasional yang mau beli alat baru biar kerja makin cepat, tapi tim Finance bilang "nggak ada budget"? Nah, inilah yang disebut konflik klasik antar divisi. Di dunia bisnis, tiga divisi ini—Sales, Operasional, dan Finance—sering punya kacamata yang beda banget.

 

Tim Sales itu biasanya gaspol. Fokus mereka adalah gimana caranya dapet angka, dapet customer baru, dan bikin omzet meroket. Buat mereka, "Yang penting barang laku dulu, urusan lain belakangan." Sementara itu, tim Operasional fokusnya ke kualitas dan kelancaran. Mereka pengen proses produksi nggak terhambat, stok aman, dan pengiriman tepat waktu. Tapi buat mewujudkan itu, mereka butuh biaya yang nggak sedikit.

 

Di sinilah Finance muncul sebagai tokoh yang sering dianggap "polisi" atau "penghambat". Padahal, Finance punya peran krusial buat menjaga agar perusahaan nggak cuma kelihatannya ramai, tapi sebenarnya "keropos" di dalam. Konflik ini muncul karena masing-masing punya target yang berbeda. Sales pengen omzet, Operasional pengen kelancaran, Finance pengen profitabilitas dan keamanan kas.

 

Masalahnya, kalau konflik ini nggak dikelola dengan baik dan dibiarkan jalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi, perusahaan bisa celaka. Bayangkan mobil yang gasnya diinjak dalam-dalam oleh Sales, mesinnya dipaksa kerja keras sama Operasional, tapi nggak ada yang cek bensinnya masih cukup atau nggak. Itulah kenapa artikel ini penting, karena kita akan bahas gimana caranya biar Sales dan Operasional tetap bisa lari kencang, tapi Finance tetap pegang kendali biar mobilnya nggak mogok di tengah jalan atau malah masuk jurang.

 

Risiko Sales dan Operasional Tanpa Kontrol Keuangan

Apa sih bahayanya kalau Sales dan Operasional dibiarin "liar" tanpa kontrol ketat dari Finance? Banyak pebisnis pemula mikir, "Yang penting laku, duit pasti ada." Padahal, realitanya nggak sesimpel itu. Risiko terbesar kalau Sales jalan tanpa kontrol adalah kita bisa terjebak dalam fenomena "Jual Rugi Tanpa Sadar".

 

Misalnya, demi ngejar target, tim Sales kasih diskon gede-gedean atau janjiin term of payment (TOP) yang lama banget ke customer. Barang memang laku keras, tapi ternyata harga jualnya nggak nutup biaya operasional yang membengkak. Atau, gara-gara TOP yang terlalu lama, barang sudah keluar tapi duitnya baru masuk tiga bulan lagi. Akibatnya, perusahaan nggak punya uang tunai buat beli bahan baku lagi atau bayar gaji karyawan. Inilah yang bikin perusahaan bangkrut padahal jualannya ramai.

 

Di sisi Operasional, tanpa kontrol Finance, sering terjadi pemborosan yang nggak masuk akal. Mungkin tim Operasional beli stok bahan baku terlalu banyak karena takut kehabisan, padahal barang itu belum tentu cepat laku. Duit perusahaan jadi "mati" di gudang. Atau mereka beli mesin paling mahal yang kapasitasnya sebenarnya belum dibutuhin.

 

Tanpa kendali Finance, Sales dan Operasional bisa bikin perusahaan "obesitas" biaya. Biaya marketing bengkak, biaya lembur Operasional nggak terkontrol, tapi nggak ada yang ngitung apakah pengeluaran itu sebanding sama profit yang didapat. Risiko akhirnya adalah Negative Cash Flow. Perusahaan mungkin kelihatan hebat di laporan laba rugi, tapi di rekening bank isinya kosong. Di sinilah Finance harus jadi "rem" yang cerdas; bukan buat berhenti, tapi buat memastikan kecepatan mobil sesuai dengan kapasitas bensin yang ada.

 

Studi Kasus: Growth Cepat tapi Cash Minus

Ada satu cerita yang sering terjadi di dunia startup atau UMKM yang lagi naik daun. Sebut saja Perusahaan X. Dalam setahun, penjualannya naik 500%. Semua orang tepuk tangan, Sales dapet bonus gede, Operasional nambah karyawan banyak banget karena pesanan membludak. Owner-nya senang luar biasa melihat grafis penjualannya tegak lurus ke atas.

 

Tapi, pas akhir tahun, Owner-nya kaget pas mau bayar bonus tahunan dan pajak: saldo di bank tinggal dikit banget. Ternyata, selama setahun itu, Perusahaan X terjebak dalam jebakan growth. Karena pengen cepat besar, mereka bakar uang di iklan tanpa hitung Customer Acquisition Cost (CAC). Mereka juga kasih tempo bayar ke distributor sampai 60 hari, padahal mereka harus bayar ke supplier bahan baku dalam 15 hari.

 

Apa yang terjadi? Terjadi gap pendanaan yang besar. Semakin banyak mereka jualan, semakin besar uang yang harus mereka "talangi" buat beli bahan baku dan bayar operasional sebelum duit dari distributor masuk. Di saat yang sama, Operasional nggak efisien karena banyak barang rusak akibat proses yang terlalu cepat dan nggak terkontrol.

 

Akhirnya, perusahaan yang kelihatannya sukses ini malah harus pinjam uang ke bank dengan bunga tinggi cuma buat bertahan hidup sehari-hari. Inilah yang disebut "Growth tapi Cash Minus". Kasus ini membuktikan bahwa pertumbuhan penjualan yang cepat tanpa manajemen arus kas yang ketat dari divisi Finance hanyalah jalan tol menuju kebangkrutan. Tanpa kontrol, pertumbuhan bukan jadi berkah, tapi malah jadi beban yang menghancurkan struktur keuangan perusahaan dari dalam.

 

Peran Finance sebagai Penyeimbang

Di tengah hiruk pikuk Sales yang mau gaspol dan Operasional yang mau lancar, Finance harus berdiri di tengah sebagai penyeimbang atau "The Great Balancer". Peran Finance di sini bukan cuma jadi tukang catat atau tukang bayar tagihan doang, tapi jadi mitra strategis yang kasih data objektif ke semua divisi.

 

Finance harus bisa bilang ke Sales, "Boleh kejar target segitu, tapi tolong diskonnya jangan lebih dari 5% ya, biar margin kita aman." Atau bilang ke Operasional, "Oke, kita butuh mesin baru, tapi kita cicil atau cari yang kapasitasnya sesuai dulu ya, supaya aliran kas kita nggak terganggu bulan depan." Finance memberikan batasan yang sehat agar ambisi divisi lain nggak jadi bumerang buat perusahaan.

 

Selain itu, Finance berperan dalam mengelola likuiditas. Mereka yang harus memastikan kalau besok ada tagihan supplier atau gaji karyawan, uangnya sudah tersedia. Penyeimbang di sini artinya Finance harus bisa melihat gambaran besar (Big Picture). Sales cuma lihat angka jualan, Operasional cuma lihat proses, tapi Finance lihat kesehatan organisasi secara utuh.

 

Finance juga berperan sebagai narator data. Mereka menerjemahkan semua kegiatan Sales dan Operasional ke dalam angka yang bisa dibaca: "Apakah kita untung? Apakah kita punya uang tunai? Berapa lama uang kita balik?" Dengan adanya Finance sebagai penyeimbang, setiap keputusan yang diambil bukan cuma berdasarkan insting atau semangat doang, tapi berdasarkan perhitungan yang matang. Finance memastikan kalau Sales dan Operasional jalan, perusahaan bukan cuma bergerak, tapi bergerak ke arah yang benar-benar menghasilkan keuntungan nyata.

 

Aturan Main Pengeluaran

Supaya Finance bisa pegang kendali tanpa dicap sebagai "diktator", perusahaan butuh yang namanya aturan main pengeluaran yang jelas. Tanpa aturan, pengeluaran bakal jadi kacau. Tim Sales tiba-tiba klaim biaya makan mewah dengan klien tanpa izin, atau Operasional tiba-tiba beli sparepart mahal tanpa perbandingan harga.

 

Aturan main ini biasanya dituangkan dalam SOP (Standard Operating Procedure) Keuangan. Isinya simpel tapi tegas. Misalnya, setiap pengeluaran di atas 1 juta harus lewat persetujuan Finance tiga hari sebelumnya. Atau, setiap pembelian barang harus menyertakan minimal tiga penawaran dari vendor yang berbeda supaya perusahaan dapet harga terbaik.

 

Selain itu, perlu ada sistem budgeting per divisi. Tiap awal bulan atau awal tahun, Sales dan Operasional dikasih jatah budget. Mereka bebas berkreasi di dalam budget itu, tapi kalau mau lewat, mereka harus punya alasan yang kuat banget dan harus seizin Finance. Ini bikin divisi lain belajar untuk bertanggung jawab sama uang yang mereka pakai.

 

Penting juga untuk mengatur sistem "Reimbursement" dan "Advance". Jangan sampai karyawan pakai uang pribadi terlalu banyak atau uang kantor dipakai tanpa laporan yang jelas. Dengan adanya aturan main ini, Finance nggak perlu debat kusir tiap hari sama divisi lain. Kalau ada yang melanggar, tinggal tunjuk aturannya. Ini menciptakan transparansi dan kedisiplinan. Perusahaan jadi lebih rapi, dan Finance bisa memprediksi dengan lebih akurat berapa uang yang bakal keluar setiap bulannya. Aturan main ini adalah fondasi agar operasional jalan terus tapi dompet perusahaan tetap terjaga.

 

Kontrol Program Sales

Tim Sales itu kreatif banget kalau bikin program promo. Ada "Buy 1 Get 1", diskon tanggal kembar, sampai bonus buat toko yang bisa capai target. Tapi, seringkali program-program ini cuma dilihat dari sisi "seberapa banyak barang yang bakal keluar," bukan "seberapa banyak profit yang bakal masuk." Di sinilah Finance harus masuk buat melakukan kontrol program Sales.

 

Tugas Finance adalah melakukan analisa Pre-Promo dan Post-Promo. Sebelum program jalan, Finance harus hitung: kalau diskonnya 20%, apakah kita masih untung? Berapa banyak barang yang harus laku supaya biaya iklan promonya tertutup? Kalau hitungannya nggak masuk akal, Finance punya hak buat minta program itu direvisi atau dibatalkan.

 

Kontrol juga berlaku buat insentif atau komisi Sales. Jangan sampai Sales dapet komisi gede cuma berdasarkan angka penjualan, padahal barangnya retur atau customer-nya nggak bayar-bayar (piutang macet). Finance harus memastikan komisi baru cair kalau uang dari customer sudah benar-benar masuk ke rekening perusahaan. Ini bikin Sales juga ikut jagain kualitas customer yang mereka cari.

 

Selain itu, Finance harus memantau efektivitas budget marketing. Kalau Sales minta budget 100 juta buat iklan, Finance bakal tanya: "Berapa leads yang didapat? Berapa yang jadi penjualan?" Dengan kontrol dari Finance, tim Sales nggak cuma sekadar "buang-buang uang" buat promo yang nggak jelas hasilnya. Kontrol ini memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan buat jualan bener-bener jadi investasi yang balik modal, bukan cuma bikin angka penjualan kelihatan gede di atas kertas doang.

 

Evaluasi Biaya Operasional

Biaya operasional seringkali kayak "rayap" di perusahaan. Nggak kelihatan besar satu per satu, tapi kalau dikumpulin bisa bikin pondasi keuangan ambruk. Makanya, Finance harus rajin-rajin melakukan evaluasi biaya operasional. Evaluasi ini bukan maksudnya pelit, tapi memastikan efisiensi.

 

Banyak biaya yang sering dianggap "wajar" padahal sebenarnya bisa ditekan. Misalnya biaya listrik yang bengkak karena mesin tetap nyala padahal nggak dipakai, biaya lembur yang tinggi karena koordinasi kerja yang buruk, atau biaya logistik yang mahal karena pengiriman nggak dijadwal dengan rapi. Finance bakal bedah satu-satu pengeluaran itu tiap bulan.

 

Finance biasanya pakai metode perbandingan (Comparison). Biaya operasional bulan ini dibandingin sama bulan lalu, atau dibandingin sama budget awal. Kalau ada kenaikan yang nggak wajar, Finance bakal tanya ke tim Operasional: "Kenapa biaya pemeliharaan mesin naik dua kali lipat? Apakah mesinnya sudah tua atau vendornya kemahalan?" Pertanyaan-pertanyaan kritis ini memaksa tim Operasional buat ikut mikir efisiensi.

 

Selain itu, evaluasi ini juga melihat mana biaya tetap (Fixed Cost) dan mana biaya variabel (Variable Cost). Finance bakal coba cari cara gimana biar biaya tetap nggak makin berat kalau jualan lagi turun. Misalnya, daripada sewa gudang baru, kenapa nggak optimalin gudang yang ada pakai rak yang lebih tinggi? Evaluasi biaya operasional dari Finance bikin perusahaan jadi lebih "lean" atau ramping. Perusahaan yang ramping bakal lebih tahan banting kalau kondisi ekonomi lagi lesu, karena mereka nggak punya banyak "lemak" pengeluaran yang nggak berguna.

 

Forum Koordinasi Bulanan

Supaya poin-poin di atas nggak cuma jadi teori, perlu ada wadahnya, yaitu Forum Koordinasi Bulanan. Ini adalah momen di mana pimpinan Sales, Operasional, dan Finance duduk bareng dalam satu meja. Jangan bayangin rapat yang tegang dan saling salah-salahan ya, forum ini tujuannya justru buat sinkronisasi.

 

Di forum ini, Finance bakal buka data bulan lalu. "Bulan lalu jualan kita sekian, tapi biaya operasional sekian, jadi profit kita cuma sekian." Dari situ, semua divisi bisa lihat dampaknya ke kas perusahaan. Tim Sales bisa cerita kendala mereka di lapangan, tim Operasional cerita soal stok barang, dan Finance kasih pandangan dari sisi duitnya.

 

Forum ini penting buat ambil keputusan cepat. Misalnya, kalau Finance lihat cash flow lagi tipis, mereka bisa sampaikan di forum: "Bulan depan kita tahan dulu ya beli alat barunya, kita fokus dulu tagihin piutang yang macet." Tanpa forum kayak gini, divisi lain nggak bakal tahu kalau kondisi keuangan lagi "lampu kuning". Mereka bakal tetap belanja dan jualan kayak biasanya, yang akhirnya malah bikin bahaya.

 

Koordinasi bulanan ini juga buat nyamain frekuensi. Biar Sales nggak janjiin yang nggak-nggak ke klien yang ujung-ujungnya nyusahin Operasional dan bikin rugi Finance. Dengan komunikasi yang rutin dan transparan, rasa saling percaya antar divisi bakal tumbuh. Sales dan Operasional nggak bakal ngerasa Finance itu "penghambat", tapi mereka sadar kalau Finance itu "penjaga gawang" yang memastikan tim mereka nggak kebobolan secara finansial.

 

Data sebagai Dasar Keputusan

Zaman sekarang, bisnis nggak bisa lagi cuma modal "kayaknya" atau "perasaan". Keputusan harus diambil berdasarkan data yang akurat, dan di sinilah Finance memegang peranan penting. Finance adalah gudangnya data mentah yang diolah jadi informasi berharga. Data ini yang jadi dasar buat Sales jalan dan Operasional jalan.

 

Misalnya, tim Sales mau masuk ke pasar baru. Finance nggak cuma lihat potensinya, tapi lihat datanya: "Berapa biaya distribusinya ke sana? Berapa harga kompetitor? Berapa lama uang balik?" Kalau datanya bilang biayanya terlalu mahal dan nggak untung dalam jangka panjang, maka rencana itu harus dipikir ulang. Data mencegah kita dari keputusan yang cuma emosional.

 

Data juga dipakai buat evaluasi produk. Finance bisa tunjukin data produk mana yang paling laku tapi profitnya dikit, dan mana produk yang mungkin nggak terlalu laku tapi marginnya gede banget. Dari data ini, tim Sales bisa atur strategi produk mana yang harus lebih didorong. Tim Operasional juga bisa lihat data mana proses yang paling banyak buang biaya.

 

Dengan data sebagai dasar keputusan, perdebatan antar divisi jadi lebih objektif. Kalau Finance menolak pengeluaran, itu bukan karena sentimen pribadi, tapi karena datanya memang nggak memungkinkan. Sebaliknya, kalau data menunjukkan ada peluang besar, Finance bisa kasih dukungan penuh buat kucurin dana. Intinya, data bikin operasional perusahaan jadi terukur. Perusahaan yang terukur jauh lebih mudah untuk tumbuh besar (scale up) karena setiap langkahnya punya dasar hitungan yang jelas.

 

Kesimpulan

Jadi, kesimpulannya simpel: Sebuah bisnis itu kayak sebuah tim olahraga. Sales adalah penyerang yang tugasnya cetak gol (omzet). Operasional adalah pemain tengah yang mengatur alur permainan (proses kerja). Tapi Finance adalah pelatih sekaligus penjaga gawang yang pegang kendali strategi dan memastikan pertahanan (keuangan) tetap aman.

 

Kalau penyerang asik lari tapi penjaga gawangnya ditinggal sendirian, sekali kena serangan balik (cash flow macet), tim itu bakal kalah. Makanya, Sales boleh jalan kencang, Operasional boleh kerja keras, tapi Finance mutlak harus pegang kendali. Kendali di sini bukan berarti menghambat, tapi memastikan setiap langkah perusahaan punya landasan ekonomi yang kuat dan menguntungkan.

 

Integrasi antara Sales yang agresif, Operasional yang efisien, dan Finance yang disiplin adalah kunci sukses bisnis jangka panjang. Tanpa salah satunya, perusahaan bakal pincang. Kalau Finance pegang kendali, Owner bisa tidur nyenyak karena tahu kalau perusahaannya bukan cuma ramai transaksinya, tapi beneran ada uangnya, sehat kasnya, dan siap buat terbang lebih tinggi lagi.

 

Ingat, jualan itu penting, operasional itu wajib, tapi profit dan cash flow yang sehat adalah nyawa perusahaan. Dan Finance adalah divisi yang bertugas menjaga nyawa itu tetap ada. Jadi, pastikan Finance Anda bukan cuma jadi pencatat sejarah, tapi jadi pengemudi yang duduk manis di samping Anda buat navigasi jalan menuju kesuksesan finansial!


Apakah Anda siap untuk menguasai strategi keuangan bisnis yang efektif dan mengubah nasib bisnis Anda? Ikuti e-course "Jurus Keuangan Bisnis" kami sekarang dan temukan rahasia sukses finansial yang berkelanjutan! klik di sini







Comments


PT Cerdas Keuangan Bisnis berdiri sejak 2023

© 2025 @Ilmukeuangan

bottom of page