Unit Economics: Menilai Kelayakan Bisnis Sebenarnya
- Ilmu Keuangan

- 5 days ago
- 7 min read

Pengantar Unit Economics
Bayangkan Anda sedang berjualan es kopi susu. Unit Economics itu sebenarnya cuma cara kita bertanya: "Kalau saya menjual satu gelas es kopi ini, apakah saya sebenarnya untung atau malah rugi?"
Seringkali, pemilik bisnis terlalu fokus pada omzet bulanan. "Wah, omzet saya bulan ini 100 juta!" Tapi mereka lupa melihat unit terkecilnya. Unit Economics mengajak kita melihat bisnis dari kacamata satu unit produk (satu gelas kopi, satu baju, satu jam jasa konsultasi) atau satu orang pelanggan. Jadi, kita tidak melihat gambar besarnya dulu, tapi melihat "sel" terkecil pembentuk bisnis tersebut.
Kalau dari satu unit saja Anda sudah rugi, maka semakin banyak Anda menjual, semakin besar pula kerugian Anda. Ini yang sering disebut sebagai "bakar uang" yang tidak sehat. Dalam Unit Economics, ada dua pemain utama yang selalu disebut: LTV (Lifetime Value) atau berapa banyak uang yang akan dibelanjakan pelanggan selama dia jadi langganan kita, dan CAC (Customer Acquisition Cost) atau berapa biaya yang kita keluarkan untuk mendapatkan satu pelanggan itu.
Singkatnya, Unit Economics adalah detektor kebenaran. Dia akan memberi tahu Anda apakah model bisnis Anda masuk akal secara logika keuangan atau hanya sekadar terlihat ramai tapi sebenarnya "berdarah-darah" di dalam. Sebelum Anda bicara soal ekspansi atau buka cabang, pastikan "angka per unit" Anda sudah sehat.
Mengapa Penting untuk Startup dan UMKM
Bagi Startup dan UMKM, Unit Economics adalah kompas keselamatan. Kenapa? Karena biasanya kedua jenis bisnis ini punya sumber daya (uang dan waktu) yang terbatas.
Untuk Startup, mereka sering kali mendapatkan pendanaan besar dan didorong untuk tumbuh secepat kilat. Masalahnya, kalau Startup tumbuh besar tanpa Unit Economics yang sehat, mereka seperti balon yang ditiup terlalu kencang tapi ada lubangnya; makin besar ditiup, makin cepat kempesnya. Unit Economics membantu investor melihat apakah bisnis ini punya masa depan untuk untung (profitable) atau cuma jago cari pengguna tapi tidak bisa cari duit.
Sedangkan untuk UMKM, Unit Economics penting agar mereka tidak terjebak dalam "perasaan untung". Banyak pelaku UMKM merasa untung karena di kas ada uang, padahal mereka belum menghitung biaya listrik, tenaga kerja sendiri, atau biaya iklan di media sosial. Dengan memahami Unit Economics, UMKM bisa tahu kapan harus menaikkan harga atau kapan harus berhenti memberi diskon.
Tanpa pemahaman ini, bisnis Anda hanyalah sebuah tebakan. Anda mungkin sibuk luar biasa, tapi di akhir tahun tabungan tidak bertambah. Unit Economics memastikan bahwa setiap keringat yang Anda keluarkan untuk menjual satu unit barang itu memang ada harganya dan memberikan sisa uang untuk kantong Anda.
Studi Kasus Unit Economics Buruk
Kita sering melihat perusahaan besar yang tiba-tiba tutup atau bangkrut. Salah satu penyebab utamanya adalah Unit Economics yang hancur. Mari kita ambil contoh layanan pesan antar makanan fiktif yang memberikan promo gila-gilaan.
Katakanlah perusahaan ini mendapatkan satu pelanggan dengan biaya iklan Rp50.000 (CAC). Pelanggan ini memesan makanan seharga Rp100.000. Dari pesanan itu, perusahaan hanya ambil untung bersih Rp5.000 setelah bayar driver dan resto. Ternyata, si pelanggan ini hanya pakai aplikasi itu sekali (karena cuma mau promonya saja) lalu hapus aplikasi.
Artinya: Perusahaan keluar uang Rp50.000, tapi cuma dapat balik Rp5.000. Ini adalah contoh Unit Economics buruk. Mereka rugi Rp45.000 untuk setiap pelanggan baru. Kalau mereka punya 1 juta pelanggan baru, kerugiannya jadi Rp45 miliar!
Banyak bisnis "bakar uang" berharap suatu saat nanti pelanggan akan loyal dan belanja terus sampai untung. Tapi kalau biayanya terlalu mahal dan pelanggannya tidak setia, strategi ini sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan. Unit Economics yang buruk menunjukkan bahwa model bisnisnya tidak berkelanjutan. Anda tidak bisa menambal lubang di satu ember dengan cara menambah seribu ember bocor lainnya.
Cara Menghitung CAC, LTV, dan Margin per Unit
Mari kita bedah rumusnya dengan cara paling gampang:
CAC (Customer Acquisition Cost): Total biaya marketing (iklan FB, gaji admin medsos, cetak brosur) dibagi jumlah pelanggan baru yang didapat. Kalau keluar uang 1 juta untuk iklan dan dapat 10 pembeli, maka CAC Anda adalah Rp100.000 per orang.
LTV (Lifetime Value): Total keuntungan bersih yang Anda dapat dari satu pelanggan selama dia berlangganan. Misal, seorang ibu langganan katering Anda selama 5 bulan, tiap bulan Anda untung bersih Rp200.000. Maka LTV ibu itu adalah Rp1.000.000.
Margin per Unit: Harga jual dikurangi biaya langsung (bahan baku, kemasan, ongkir). Kalau jual hijab Rp150.000 dan modal kain plus jahit Rp70.000, maka margin Anda Rp80.000.
Bisnis yang sehat biasanya punya aturan LTV harus minimal 3 kali lipat lebih besar dari CAC (LTV > 3x CAC). Kalau LTV Anda cuma sama dengan CAC, artinya Anda cuma "kerja bakti" buat bayar iklan, tidak dapat untung apa-apa untuk operasional kantor. Menghitung ini secara rutin akan membuat Anda sadar: "Oh, saya harus cari cara biar iklan saya lebih murah (turunkan CAC) atau bikin pelanggan saya belanja lebih sering (naikkan LTV)."
Hubungan Unit Economics dan Pricing
Menentukan harga (pricing) itu bukan cuma soal "ikut harga pasar" atau "yang penting lebih murah dari tetangga". Harga adalah tuas utama dalam Unit Economics.
Kalau harga Anda terlalu rendah, margin per unit Anda akan tipis. Akibatnya, LTV Anda akan kecil. Dengan LTV kecil, Anda tidak punya ruang untuk keluar biaya marketing (CAC). Akhirnya, bisnis Anda susah tumbuh karena tidak ada anggaran buat promo.
Sebaliknya, kalau harga Anda premium, margin per unit jadi besar. Anda punya banyak uang untuk memberikan layanan terbaik sehingga pelanggan makin loyal (LTV naik). Anda juga punya uang lebih untuk pasang iklan yang lebih keren (CAC terpenuhi).
Tapi ingat, harga tinggi juga harus diimbangi dengan kualitas. Hubungan keduanya sangat erat: Unit Economics yang sehat seringkali berawal dari strategi pricing yang cerdas. Jangan takut pasang harga sedikit lebih tinggi kalau itu memang diperlukan untuk membuat ekonomi per unit Anda menjadi "masuk akal". Bisnis bukan lomba siapa yang paling murah, tapi siapa yang paling lama bertahan dan menguntungkan.
Cost per Unit
Banyak orang salah hitung di sini. Mereka pikir Cost per Unit cuma harga beli barang di supplier. Padahal, Cost per Unit yang sebenarnya (sering disebut COGS - Cost of Goods Sold) harus mencakup semua biaya yang nempel langsung ke produk itu.
Misal Anda jualan kue kering. Cost per Unit-nya adalah: Harga tepung + telur + mentega (per toples) + harga toplesnya + stiker label + biaya listrik oven (dihitung rata-rata) + biaya packing bubble wrap.
Bahkan, kalau Anda sangat detail, biaya tenaga kerja orang yang bikin kue itu juga harus dimasukkan. Kenapa? Karena kalau suatu saat bisnis Anda besar dan Anda harus rekrut pegawai, biaya itu akan muncul secara nyata. Kalau dari sekarang biaya kerja tidak dihitung, Anda akan kaget karena saat punya pegawai, untung Anda tiba-tiba hilang.
Dengan tahu Cost per Unit yang mendalam, Anda bisa melakukan efisiensi. "Bisa gak ya cari supplier toples yang lebih murah Rp500?" Kedengarannya kecil, tapi kalau Anda jual 10.000 toples, itu artinya tambahan untung Rp5 juta tanpa harus naikkan harga. Itulah kekuatan memahami Cost per Unit.
Break-Even per Unit
Break-Even Point (BEP) biasanya dihitung secara total, tapi di Unit Economics kita lihat per unit. Intinya: "Saya harus jual berapa unit supaya biaya tetap (gaji kantor, sewa ruko, wifi) bisa tertutup?"
Katakanlah sewa ruko dan gaji admin totalnya Rp10 juta per bulan. Margin bersih per satu baju yang Anda jual adalah Rp50.000. Maka, BEP per unit Anda adalah 10.000.000 dibagi 50.000, yaitu 200 baju.
Artinya, baju ke-1 sampai baju ke-200 yang Anda jual itu uangnya cuma buat "lewat" bayar ruko dan gaji. Anda baru benar-benar makan uang untung di baju ke-201.
Memahami ini sangat penting supaya Anda punya target harian yang jelas. "Oke, supaya aman, setiap hari tim sales harus jual minimal 7 baju." Kalau cuma jual 5 baju sehari, meskipun kelihatannya ada yang beli, sebenarnya bisnis Anda sedang nomok untuk bayar operasional. BEP per unit memberikan target yang nyata dan mudah dipantau oleh tim.
Kesalahan Umum
Ada beberapa lubang jebakan yang sering membuat orang salah menilai Unit Economics mereka:
Menganggap semua omzet adalah keuntungan: Ini kesalahan paling klasik. Padahal ada biaya di balik setiap rupiah yang masuk.
Lupa menghitung biaya retur atau barang rusak: Dalam bisnis, pasti ada barang yang dikembalikan pelanggan atau rusak di jalan. Ini harus masuk dalam hitungan biaya per unit.
Hanya menghitung biaya iklan digital: CAC bukan cuma biaya iklan FB/IG Ads. Gaji orang yang desain konten, biaya bikin video TikTok, itu semua bagian dari biaya mendapatkan pelanggan.
Terlalu optimis soal LTV: Merasa pelanggan akan langganan selamanya. Padahal rata-rata orang mungkin cuma bertahan 3 bulan. Hitunglah berdasarkan data nyata, bukan harapan.
Mengabaikan biaya operasional yang tidak terlihat: Seperti biaya admin bank, potongan marketplace (biaya admin Shopee/Tokopedia), atau biaya packing yang printilannya banyak.
Menghindari kesalahan ini berarti Anda melihat bisnis secara jujur. Lebih baik tahu angka pahit di awal daripada bangkrut secara mendadak di kemudian hari.
Tools Analisis
Anda tidak perlu software super mahal untuk menganalisis Unit Economics. Untuk tahap awal, Microsoft Excel atau Google Sheets sudah lebih dari cukup. Kuncinya adalah rajin mencatat setiap pengeluaran marketing dan setiap detail biaya produksi.
Jika bisnis Anda sudah lebih besar (Startup), biasanya menggunakan tools seperti:
Google Analytics: Untuk melacak dari mana pelanggan datang dan seberapa efektif iklan Anda (membantu hitung CAC).
Mixpanel atau Amplitude: Untuk melihat perilaku pelanggan, apakah mereka beli lagi atau tidak (membantu hitung LTV).
Software Akuntansi (seperti Xero, Jurnal, atau Accurate): Untuk menarik data COGS secara otomatis.
Tapi yang paling penting dari semua tools itu adalah kedisiplinan Anda menginput data. Data yang sampah akan menghasilkan analisis yang sampah juga (Garbage in, garbage out). Mulailah dengan tabel sederhana: kolom biaya marketing, kolom jumlah pembeli baru, dan kolom total margin. Dari situ, gambaran kesehatan bisnis Anda akan mulai terlihat.
Kesimpulan
Unit Economics adalah fondasi dari segala strategi bisnis. Tanpa pemahaman ini, strategi pertumbuhan (scaling up) Anda hanyalah sebuah spekulasi berbahaya.
Bisnis yang bagus bukan bisnis yang punya kantor paling mewah atau follower paling banyak, tapi bisnis yang ekonomi per unitnya sehat: Biaya mendapatkan pelanggan (CAC) masuk akal, margin per produknya tebal, dan pelanggannya setia belanja terus (LTV tinggi).
Jika Unit Economics Anda sudah sehat, barulah Anda boleh bicara soal menambah modal, merekrut banyak orang, atau ekspansi ke luar kota. Sebab, dengan unit yang sehat, pertumbuhan akan membawa keuntungan. Tapi dengan unit yang sakit, pertumbuhan hanya akan membawa kehancuran yang lebih cepat. Jadi, sebelum melangkah lebih jauh, ambil kalkulator Anda dan hitunglah: "Apakah saya benar-benar untung di setiap unit yang saya jual?"
Tingkatkan kinerja keuangan bisnis Anda dengan workshop "Smart Financial Map"! Daftar sekarang di www.smartfinancialmap.com dan kuasai strategi finansial cerdas untuk bisnis yang lebih sukses. Ambil langkah pasti menuju kesuksesan bisnis Anda hari ini!





Comments