top of page

Forecasting Permintaan Awal Ramadan untuk Keputusan Keuangan


Pengantar Forecasting Ramadan

Ramadan di Indonesia itu bukan cuma soal ibadah, tapi juga fenomena ekonomi yang luar biasa unik. Kalau kita bicara bisnis, bulan suci ini adalah "musim panen" sekaligus tantangan besar. Kenapa? Karena pola belanja masyarakat berubah total dalam waktu semalam. Nah, di sinilah Forecasting atau peramalan permintaan berperan penting. Bayangkan forecasting itu seperti ramalan cuaca; kita mencoba memprediksi kapan hujan belanja akan turun deras supaya kita sudah sedia payung berupa stok barang dan dana.

 

Banyak pebisnis pemula yang cuma pakai perasaan atau "insting" saat masuk bulan Ramadan. Padahal, insting saja tidak cukup untuk menjaga kesehatan keuangan. Forecasting adalah cara kita mengubah data masa lalu dan tren saat ini menjadi sebuah angka estimasi yang masuk akal. Tanpa prediksi yang jelas, Anda seperti menyetir mobil dengan mata tertutup. Anda tidak tahu harus belanja bahan baku berapa banyak atau butuh berapa banyak karyawan tambahan.

 

Tujuan utama dari pengantar ini adalah menyadarkan kita bahwa Ramadan itu punya ritme sendiri. Ada masa tenang, ada masa ledakan permintaan. Dengan melakukan forecasting, kita mencoba meminimalkan ketidakpastian. Keputusan keuangan yang diambil berdasarkan data peramalan akan jauh lebih aman dibandingkan keputusan yang diambil karena ikut-ikutan tren atau sekadar tebak-tebakan. Intinya, kita ingin menangkap peluang sebesar-besarnya tanpa harus terjebak dalam risiko kerugian akibat salah hitung. Persiapan yang matang dimulai dari angka yang akurat.

 

Pola Permintaan Awal Ramadan

Satu hal yang harus dipahami: pola permintaan di awal Ramadan itu beda jauh dengan pola di minggu-minggu terakhir (menjelang Lebaran). Di awal Ramadan, ada fenomena yang sering disebut sebagai "Stok Pangan dan Kebutuhan Rumah Tangga". Seminggu sebelum Ramadan sampai hari-hari pertama, masyarakat biasanya fokus menyetok bahan makanan untuk sahur dan buka puasa di rumah. Permintaan produk seperti sirup, kurma, beras, daging, dan bumbu dapur biasanya melonjak tajam.

 

Namun, uniknya, di awal Ramadan sering terjadi penurunan permintaan di sektor-sektor tertentu, seperti restoran atau kafe di siang hari, karena orang sedang berpuasa. Tapi, begitu menjelang waktu Magrib, permintaan delivery atau dine-in bisa meledak berkali-kali lipat dalam waktu yang sangat singkat. Polanya adalah "Sangat Sepi di Siang Hari, Sangat Sibuk di Sore Hari". Ini yang sering membuat pebisnis bingung kalau tidak siap.

 

Selain itu, ada faktor psikologis "penghematan awal". Banyak orang menahan diri untuk belanja baju atau barang elektronik di awal bulan karena mereka tahu pengeluaran besar akan ada di akhir bulan untuk kebutuhan mudik dan Lebaran. Jadi, kalau bisnis Anda adalah fashion, jangan berkecil hati kalau minggu pertama agak landai. Memahami pola ini membantu kita mengatur napas operasional. Jangan sampai kita jor-joran stok barang yang sebenarnya baru dicari orang dua minggu lagi, atau sebaliknya, kita kehabisan stok bahan pokok justru saat orang sedang gila-gilanya belanja untuk stok sahur pertama.

 

Studi Kasus Forecast Melenceng

Mari kita belajar dari kesalahan orang lain. Ada sebuah cerita klasik tentang sebuah bisnis katering yang merasa Ramadan tahun lalu sangat ramai, lalu mereka memprediksi tahun ini akan naik dua kali lipat hanya berdasarkan "perasaan optimis". Mereka langsung menyewa tiga dapur tambahan dan merekrut puluhan tenaga lepas sejak hari pertama Ramadan. Apa yang terjadi? Ternyata di awal Ramadan tahun tersebut, daya beli masyarakat sedang turun karena berbarengan dengan tahun ajaran baru sekolah.

 

Akibat forecast yang melenceng terlalu jauh ke atas (terlalu optimis), katering tersebut mengalami kerugian besar. Bahan baku banyak yang basi karena pesanan tidak sebanyak yang dibayangkan, dan mereka tetap harus membayar gaji karyawan tambahan yang hanya duduk-duduk saja karena sepi orderan. Uang kas (cash flow) mereka habis di minggu kedua, padahal puncak pesanan biasanya baru datang di minggu ketiga dan keempat saat acara buka bersama kantor mulai banyak.

 

Ada juga kasus sebaliknya: forecast yang terlalu rendah (terlalu pesimis). Sebuah toko kue kering hanya menyiapkan stok sedikit di awal Ramadan karena takut tidak laku. Ternyata, tren kirim-kirim hampers di awal bulan sedang meledak. Hasilnya? Mereka kehilangan potensi omzet puluhan juta karena pelanggan kecewa barang selalu habis (out of stock). Dua studi kasus ini mengajarkan kita bahwa melenceng ke atas bikin rugi biaya, melenceng ke bawah bikin rugi peluang. Keduanya sama-sama menyakitkan bagi keuangan bisnis. Data adalah obat agar ramalan kita tetap mendarat di bumi, bukan di awan.

 

Data Historis yang Relevan

Untuk membuat ramalan yang jitu, kita butuh "kaca spion", yaitu data historis. Apa saja yang harus kita lihat? Pertama adalah Data Penjualan Ramadan Tahun Lalu. Lihatlah angka penjualan harian, bukan cuma total bulanan. Dari situ kita bisa lihat di tanggal berapa permintaan mulai naik dan di tanggal berapa mulai turun. Jika tahun lalu penjualan naik 20% di minggu pertama, ada kemungkinan tahun ini polanya mirip, tinggal disesuaikan dengan kondisi ekonomi saat ini.

 

Kedua, perhatikan Data Tren Pasar Terkini. Apakah tahun ini ada produk yang sedang viral? Misalnya, kalau tahun lalu orang suka es kepal milo, mungkin tahun ini orang lebih suka minuman berbasis teh atau kopi susu. Data historis harus digabungkan dengan tren yang sedang hangat di media sosial. Ketiga, cek Kalender Pendidikan dan Gajian. Ramadan tahun ini jatuh di awal bulan atau akhir bulan? Kalau jatuh dekat tanggal gajian, biasanya awal Ramadan akan jauh lebih ramai karena orang punya uang tunai lebih banyak.

 

Jangan lupa catat juga faktor eksternal tahun lalu, misalnya apakah tahun lalu hujan terus? Kalau iya, mungkin penjualan es buah menurun. Data-data kecil seperti ini kalau dikumpulkan akan membentuk gambaran yang jelas. Bisnis yang rapi biasanya punya catatan "Log Book" dari tahun-tahun sebelumnya. Tanpa data historis, forecasting kita cuma sebatas tebak-tebak buah manggis. Semakin detail data yang Anda punya, semakin tipis selisih antara ramalan dengan kenyataan nantinya.

 

Forecast untuk Stok dan SDM

Hasil dari forecasting permintaan harus langsung diterjemahkan menjadi dua hal operasional: Stok Barang dan Sumber Daya Manusia (SDM). Ini adalah dua area di mana uang bisnis paling banyak "terikat". Kalau hasil forecast bilang permintaan akan naik 30% di awal Ramadan, maka bagian pengadaan harus segera memesan bahan baku 30% lebih banyak dari bulan biasa. Ingat, saat Ramadan, banyak supplier juga kewalahan, jadi pemesanan berdasarkan forecast ini harus dilakukan jauh-jauh hari agar tidak kena kenaikan harga mendadak.

 

Di sisi SDM, forecasting membantu kita mengatur jadwal shift. Seperti yang kita bahas, pola Ramadan itu unik. Mungkin Anda tidak butuh tambahan orang di pagi hari, tapi Anda butuh tenaga ekstra di jam 4 sore sampai 8 malam untuk menangani lonjakan pesanan buka puasa. Jika Anda tidak melakukan forecast, Anda mungkin akan membayar lembur yang membengkak karena staf yang ada tidak sanggup menangani pesanan, atau kualitas layanan turun karena terlalu sibuk sehingga pelanggan kapok.

 

Manajemen stok yang berdasarkan forecast juga mencegah adanya barang mati (dead stock). Jangan sampai modal kerja Anda tertanam di barang yang tidak laku hanya karena salah prediksi. Sebaliknya, SDM yang diatur dengan baik berdasarkan ramalan permintaan akan membuat operasional tetap "adem" meskipun sedang ramai. Karyawan tidak kelelahan, pelanggan senang karena dilayani cepat, dan pemilik bisnis tenang karena pengeluaran gaji tetap terkontrol sesuai dengan pendapatan yang masuk.

 

Dampak Forecast ke Modal Kerja

Banyak bisnis bangkrut justru saat sedang ramai-ramainya. Kok bisa? Jawabannya karena masalah Modal Kerja. Untuk menyiapkan stok barang yang banyak di awal Ramadan, Anda butuh uang tunai (cash) sekarang untuk membayar supplier. Jika forecast Anda bilang permintaan akan naik drastis, maka Anda harus menyiapkan dana segar yang besar. Di sini pentingnya integrasi antara ramalan penjualan dengan bagian keuangan.

 

Kalau forecast tidak akurat, modal kerja Anda bisa terancam. Bayangkan jika Anda sudah terlanjur mengeluarkan semua modal untuk stok barang karena prediksi yang terlalu optimis, tapi ternyata barangnya tidak cepat laku. Uang Anda "nyangkut" di gudang. Sementara itu, Anda tetap harus membayar tagihan listrik, sewa tempat, dan THR karyawan. Kondisi ini bisa membuat bisnis Anda macet karena tidak punya sisa uang tunai untuk operasional harian. Itulah yang disebut krisis likuiditas.

 

Sebaliknya, forecast yang akurat membantu bagian keuangan untuk merencanakan arus kas. Jika tahu akan ada lonjakan pesanan, Finance bisa mengatur agar penagihan piutang ke pelanggan dilakukan lebih cepat atau mencari pinjaman jangka pendek untuk modal stok. Jadi, forecasting itu bukan cuma urusan orang sales atau bagian gudang, tapi ini adalah jantungnya manajemen keuangan. Forecast yang baik menjaga agar aliran darah (uang kas) bisnis tetap lancar, tidak tersumbat di stok berlebih, dan tidak kering saat harus bayar kewajiban.

 

Koreksi Forecast Mingguan

Ingat, forecast itu bukan harga mati yang tidak bisa diubah. Di dunia bisnis, realita seringkali lebih ajaib dari prediksi. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan Koreksi Forecast Mingguan. Apa yang Anda ramalkan sebulan sebelum Ramadan mungkin perlu disesuaikan setelah melihat hasil penjualan di minggu pertama. Jika ternyata minggu pertama lebih sepi dari dugaan, segera turunkan target stok untuk minggu kedua agar tidak rugi.

 

Dunia kuliner atau fashion sangat sensitif dengan tren mingguan. Misalnya, tiba-tiba ada instruksi pemerintah soal jam kerja atau aturan mudik yang berubah, itu pasti berpengaruh ke permintaan. Dengan melakukan evaluasi mingguan, kita menjadi bisnis yang lincah (agile). Kita tidak keras kepala mengikuti ramalan awal yang sudah terbukti tidak akurat. Kita harus berani mengubah strategi di tengah jalan demi menyelamatkan keuangan.

 

Cara praktisnya: Setiap malam Senin, duduklah bersama tim untuk melihat angka penjualan minggu lalu. Bandingkan dengan forecast awal. Jika selisihnya lebih dari 10%, cari tahu kenapa. Apakah pesaing sebelah banting harga? Atau memang minat pasar bergeser? Setelah tahu alasannya, buatlah forecast baru untuk sisa bulan tersebut. Koreksi mingguan ini adalah jaring pengaman agar kesalahan kecil di awal tidak menjadi bencana besar di akhir Ramadan. Lebih baik berubah sekarang daripada menyesal saat melihat laporan rugi-laba nanti.

 

Kolaborasi Sales–Finance

Salah satu musuh terbesar efisiensi bisnis adalah "egosektoral". Orang sales biasanya ingin target setinggi mungkin dan stok barang sebanyak-banyaknya supaya tidak kehilangan pembeli. Sementara orang finance biasanya ingin pengeluaran sekecil mungkin agar uang kas tetap aman. Jika dua bagian ini tidak duduk bareng saat membuat forecast Ramadan, yang terjadi adalah kekacauan.

 

Orang sales punya data di lapangan; mereka tahu pelanggan mana yang akan pesan banyak. Orang finance punya data batasan kemampuan uang perusahaan. Kolaborasi keduanya akan menghasilkan Forecast yang Seimbang. Sales memberikan masukan soal potensi omzet, lalu finance menghitung apakah modal kerjanya cukup. Jika modal tidak cukup, mereka bisa sepakat untuk memprioritaskan produk yang paling cepat laku (fast moving) saja.

 

Kolaborasi ini juga penting untuk menentukan kebijakan diskon. Ramadan biasanya penuh dengan perang harga. Orang sales mungkin ingin kasih diskon gede-gedean di awal Ramadan supaya ramai. Tapi orang finance harus menghitung, kalau dikasih diskon segitu, apakah masih ada untungnya setelah dipotong biaya operasional yang naik? Dengan kolaborasi yang sehat, bisnis tidak hanya mengejar omzet besar tapi semu, melainkan mengejar keuntungan yang nyata dan arus kas yang sehat. Ingat, omzet itu ego, tapi profit dan cash itu kenyataan.

 

Tools Forecasting Sederhana

Anda tidak butuh teknologi NASA untuk melakukan forecasting Ramadan. Untuk bisnis skala kecil dan menengah, Microsoft Excel atau Google Sheets sudah lebih dari cukup. Cara paling sederhana adalah membuat tabel perbandingan: Penjualan Tahun Lalu (per minggu), Penjualan Bulan Biasa, dan Estimasi Tahun Ini. Anda bisa menggunakan rumus sederhana seperti Moving Average (rata-rata bergerak) untuk melihat tren kenaikan dari hari ke hari.

 

Kalau mau lebih canggih sedikit namun tetap mudah, gunakan fitur "Forecast Sheet" di Excel yang bisa otomatis membuat grafik prediksi berdasarkan data masa lalu. Selain itu, banyak aplikasi kasir (POS) zaman sekarang yang sudah punya fitur laporan peramalan sederhana. Gunakanlah fitur itu! Jangan biarkan data di aplikasi kasir Anda cuma jadi pajangan, tarik datanya dan lihat polanya.

 

Bagi yang suka cara manual, pakai papan tulis di kantor juga oke. Catat target vs realisasi setiap hari. Visualisasi data ini penting supaya seluruh tim tahu kita sedang berada di jalur yang benar atau tidak. Yang paling penting bukan secanggih apa tool-nya, tapi seberapa jujur kita memasukkan datanya dan seberapa sering kita membacanya. Tool hanyalah alat bantu; keputusan akhir tetap ada di tangan pemilik bisnis yang paham konteks pasar. Jadi, mulailah dari yang sederhana, yang penting angka-angka tersebut membantu Anda tidur lebih nyenyak di malam hari.

 

Kesimpulan

Mempersiapkan bisnis menyambut awal Ramadan tanpa forecasting itu seperti pergi berperang tanpa peta. Anda mungkin punya semangat tinggi, tapi kemungkinan besar akan tersesat atau kehabisan perbekalan di tengah jalan. Forecasting adalah tentang mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan di tengah ketidakpastian pasar yang fluktuatif selama bulan suci.

 

Kesimpulan besarnya adalah: (1) Gunakan data historis sebagai dasar, (2) Pahami pola unik awal Ramadan yang fokus pada stok rumah tangga, (3) Terjemahkan prediksi menjadi rencana stok dan SDM yang efisien, dan (4) Pastikan bagian keuangan sanggup mendanai rencana tersebut. Ingat, forecast yang sukses adalah yang mampu menyeimbangkan antara ketersediaan barang dengan keamanan arus kas.

 

Jangan takut jika prediksi Anda melenceng di awal; itu bagian dari proses belajar. Yang penting adalah kelincahan Anda untuk mengoreksi ramalan tersebut setiap minggu. Ramadan adalah momen yang penuh berkah, namun secara bisnis, berkah tersebut hanya bisa dirasakan maksimal oleh mereka yang rapi dalam perencanaan dan teliti dalam eksekusi keuangan. Semoga dengan persiapan forecasting yang matang, bisnis Anda tidak hanya ramai pembeli, tapi juga sehat secara finansial, sehingga kemenangan di hari raya nanti terasa lebih manis bagi seluruh tim dan keluarga.


Apakah Anda siap untuk menguasai strategi keuangan bisnis yang efektif dan mengubah nasib bisnis Anda? Ikuti e-course "Jurus Keuangan Bisnis" kami sekarang dan temukan rahasia sukses finansial yang berkelanjutan! klik di sini






Comments


PT Cerdas Keuangan Bisnis berdiri sejak 2023

© 2025 @Ilmukeuangan

bottom of page