Kesalahan Finansial yang Sering Terjadi di Awal Ramadan
- Ilmu Keuangan

- 20 hours ago
- 10 min read

Pengantar: Kesalahan yang Terulang Tiap Tahun
Ramadan itu momen yang unik buat pebisnis, terutama di Indonesia. Di satu sisi, ini adalah "panen raya" karena daya beli masyarakat biasanya melonjak drastis. Tapi di sisi lain, Ramadan juga bisa jadi jebakan maut kalau kita nggak hati-hati. Masalahnya, banyak pengusaha yang terjebak dalam lubang yang sama setiap tahunnya. Kita sering merasa sudah siap karena tahun lalu sudah lewat, padahal tantangan tiap tahun itu beda-beda.
Biasanya, euforia menyambut bulan suci ini bikin kita sedikit "mabuk". Kita melihat angka penjualan yang naik, lalu merasa semua baik-baik saja. Padahal, kalau kita bedah dalemannya, sering kali biaya operasional kita malah bengkak lebih gede daripada kenaikan omzetnya. Inilah kenapa banyak bisnis yang kelihatannya ramai pas Ramadan, tapi pas Lebaran selesai, bukannya untung malah pusing karena duit di rekening nggak seberapa.
Kesalahan finansial di awal Ramadan biasanya dimulai dari kurangnya perencanaan yang matang. Kita cuma pakai "perasaan" atau insting bisnis, tanpa melihat data yang riil. Kita lupa kalau di bulan ini ada pengeluaran ekstra yang wajib, seperti THR, biaya lembur, sampai kenaikan harga bahan baku dari supplier. Kalau kita nggak mengantisipasi ini sejak awal, kita bakal kaget pas masuk minggu kedua atau ketiga saat arus kas mulai seret.
Tujuan dari pembahasan ini adalah supaya kita nggak cuma "numpang lewat" di musim panen ini. Kita pengen bisnis kita benar-benar sehat secara finansial, bukan cuma ramai di permukaan. Kita perlu sadar bahwa manajemen keuangan di bulan Ramadan itu butuh disiplin yang lebih tinggi daripada bulan-bulan biasa. Mari kita bedah satu per satu kesalahan apa saja yang sering bikin dompet bisnis kita boncos di awal Ramadan.
Terlalu Fokus ke Penjualan
Kesalahan paling klasik adalah pebisnis sering kali "mata duitan" dalam artian cuma melihat angka omzet atau total penjualan harian. Kita senang banget kalau melihat grafik penjualan naik tinggi. "Wah, hari ini laku 500 porsi!" atau "Hari ini pesanan tembus 1000 paket!". Padahal, omzet itu bukan keuntungan. Fokus yang berlebihan pada penjualan seringkali bikin kita mengabaikan aspek efisiensi.
Kenapa ini berbahaya? Karena demi mengejar target penjualan yang tinggi, kita sering kali mengabaikan biaya-biaya yang timbul di balik penjualan itu. Misalnya, demi mengejar target kirim hari ini, kita pakai jasa kurir instan yang mahal tanpa membebankannya ke pelanggan, atau kita belanja bahan baku di pasar eceran karena stok habis mendadak, padahal harganya jauh lebih mahal daripada beli di grosir. Akhirnya, penjualannya banyak, tapi margin keuntungannya tipis banget, bahkan bisa minus.
Selain itu, fokus cuma ke penjualan bikin kita mengabaikan kualitas layanan. Karena pengen jual sebanyak-banyaknya, staf kita jadi kewalahan, pesanan banyak yang salah, atau kualitas produk menurun. Hasilnya? Pelanggan kecewa dan nggak mau balik lagi. Dalam jangka panjang, ini merugikan finansial karena biaya untuk mencari pelanggan baru itu jauh lebih mahal daripada mempertahankan pelanggan lama.
Seharusnya, di awal Ramadan, fokus kita harus seimbang antara Sales (Penjualan) dan Bottom Line (Profit). Kita harus tahu, setiap satu rupiah yang masuk itu sebenarnya berapa persen sih yang benar-benar jadi hak kita? Jangan sampai kita cuma jadi "kurir duit"; duit masuk banyak, tapi cuma numpang lewat buat bayar operasional dan supplier, sementara kita sendiri nggak kebagian apa-apa.
Stok Berlebihan
Pernah nggak kamu merasa takut kehabisan barang (out of stock) pas lagi ramai-ramainya? Rasa takut ini sering bikin pebisnis jadi "lapar mata" dan menyetok barang atau bahan baku secara berlebihan di awal Ramadan. Istilah kerennya overstocking. Kita pikir, "Ah, mumpung ada duitnya, beli sekalian banyak biar aman." Padahal, menyetok berlebihan itu sama saja dengan mematikan uang tunai.
Duit yang kamu pakai buat beli stok itu adalah cash yang seharusnya bisa mutar buat keperluan lain. Kalau barangnya cuma numpuk di gudang, itu namanya uang mati. Belum lagi risiko kalau barangnya ternyata nggak selaku yang kita bayangkan. Ingat, tren Ramadan itu cepat banget berubah. Barang yang hits di minggu pertama, belum tentu laku di minggu ketiga. Kalau sudah begitu, kamu bakal terpaksa jual rugi (clearance sale) di akhir Ramadan cuma buat balikin modal.
Risiko lainnya adalah kerusakan. Makin banyak barang yang ditumpuk, makin tinggi risiko barang itu rusak, kedaluwarsa, atau bahkan hilang. Biaya penyimpanan pun jadi membengkak. Kamu mungkin butuh sewa gudang tambahan atau beli kulkas/freezer ekstra. Biaya listrik naik, biaya keamanan naik. Semua ini adalah "biaya tersembunyi" yang jarang dihitung saat kita memutuskan buat beli stok banyak-banyak.
Cara yang benar adalah dengan melakukan forecasting atau peramalan berdasarkan data tahun lalu dan tren minggu pertama. Jangan beli stok sekaligus buat sebulan penuh. Lebih baik beli secara bertahap atau cari supplier yang bisa kirim barang dengan cepat (just-in-time). Dengan begitu, cash flow kamu tetap segar, dan risiko barang menumpuk jadi sampah bisa diminimalisir. Ingat, lebih baik kehilangan sedikit potensi penjualan karena barang habis daripada bangkrut karena barang nggak laku.
Promo Tanpa Hitungan
Siapa sih yang nggak suka diskon? Di bulan Ramadan, perang harga dan promo itu gila-gilaan. Masalahnya, banyak pebisnis yang ikut-ikutan bikin promo cuma karena melihat kompetitor sebelah bikin hal yang sama. "Toko sebelah diskon 50%, saya juga harus dong!" Tapi, pertanyaannya: apakah kamu sudah hitung marginnya? Sering kali promo yang dibikin itu asal-asalan tanpa hitungan matematis yang jelas.
Promo tanpa hitungan adalah cara tercepat buat bikin bisnis bangkrut di tengah keramaian. Kamu mungkin merasa toko ramai banget, antrean panjang, tapi pas dihitung di akhir hari, ternyata kamu cuma "balik modal" atau malah nomok buat bayar listrik. Kamu harus paham biaya produksi (HPP) kamu secara detail. Jangan sampai harga promo yang kamu tawarkan itu sudah di bawah HPP ditambah biaya operasional.
Selain itu, promo yang salah sasaran juga merusak branding. Kalau kamu terus-terusan kasih diskon gede di awal Ramadan, orang bakal terbiasa beli produkmu cuma pas lagi murah. Begitu harga balik normal, mereka bakal lari. Bukannya dapat pelanggan loyal, kamu malah dapat "pemburu diskon" yang nggak punya loyalitas. Ini bakal bikin kamu susah buat naikin harga lagi setelah Ramadan usai.
Sebelum bikin promo, tentukan dulu tujuannya. Apa buat habisin stok lama? Apa buat tarik pelanggan baru? Atau buat naikin rata-rata belanja (average basket size)? Hitung semua biayanya, termasuk biaya promosi itu sendiri (cetak brosur, iklan sosmed, dll). Kalau setelah dihitung ternyata untungnya cuma "setipis kertas", mending nggak usah bikin promo aneh-aneh. Fokus aja pada kualitas layanan dan produk yang jempolan.
Lembur Tanpa Kontrol
Ramadan biasanya jam operasional bisnis berubah. Ada yang buka lebih pagi, ada yang tutup lebih malam buat melayani orang berbuka atau sahur. Konsekuensinya, karyawan harus kerja ekstra. Di sinilah kesalahan finansial sering ngumpet: biaya lembur yang nggak terkontrol. Kita sering mikir, "Nggak apa-apa lembur, yang penting semua pesanan kelar." Tapi pas akhir bulan, tagihan gaji karyawan bikin kita pusing tujuh keliling.
Biaya lembur itu mahal, apalagi kalau aturannya harus sesuai undang-undang tenaga kerja. Kalau kamu nggak atur jadwal shift dengan pintar, biaya gaji bisa bengkak dua kali lipat. Kesalahan lainnya adalah membiarkan semua orang lembur tanpa melihat beban kerjanya. Kadang ada staf yang sebenarnya kerjanya sudah beres, tapi ikut-ikutan lembur cuma karena temannya masih kerja atau pengen dapat uang tambahan.
Selain soal duit, lembur tanpa kontrol itu bikin karyawan capek lahir batin. Ingat, mereka juga lagi puasa. Karyawan yang kecapekan tingkat fokusnya bakal turun drastis. Akibatnya? Banyak kesalahan kerja, barang pecah, salah kirim, atau salah hitung duit kembalian. Ujung-ujungnya, kamu rugi lagi secara finansial. Jadi, lembur yang berlebihan itu sebenarnya kontraproduktif.
Solusinya, buatlah jadwal shift yang lebih fleksibel. Misalnya, bagi tim jadi tim pagi dan tim malam. Kalau beban kerja memang lagi gila-gilaan, pertimbangkan buat ambil tenaga freelance atau harian lepas. Seringkali bayar tenaga harian itu jauh lebih murah daripada bayar uang lembur karyawan tetap. Pastikan juga setiap lembur harus ada persetujuan dari kamu sebagai pemilik, biar nggak ada lembur "siluman" yang cuma buang-buang anggaran.
Cash Flow Tidak Dipantau
Ini adalah jantungnya bisnis. Banyak pebisnis yang cuma fokus di laporan laba rugi, tapi lupa sama cash flow atau arus kas. Di awal Ramadan, duit keluar itu kencang banget buat stok, promo, dan gaji. Sementara duit masuk mungkin baru deras di minggu-minggu terakhir menjelang Lebaran. Kalau kamu nggak pantau cash flow tiap hari, kamu bisa kena masalah "kantong kering" meskipun bisnismu sebenarnya lagi untung besar.
Laba di atas kertas itu beda sama duit di laci. Kamu mungkin punya piutang banyak dari pesanan katering, tapi kalau duitnya belum cair, kamu nggak bisa bayar listrik atau beli bahan baku buat besok. Di awal Ramadan, fluktuasi cash flow itu sangat liar. Ada hari di mana toko sepi banget (biasanya 3 hari pertama puasa), dan ada hari di mana pesanan membludak. Tanpa pantauan yang ketat, kamu nggak bakal tahu kapan harus ngerem pengeluaran.
Banyak pebisnis juga melakukan kesalahan dengan mencampur duit pribadi sama duit bisnis, apalagi pas lagi butuh duit buat keperluan pribadi jelang Lebaran. Ini fatal! Kamu harus punya catatan yang memisahkan mana duit buat operasional bisnis, mana duit buat THR karyawan, dan mana duit yang benar-benar profit yang bisa kamu ambil. Jangan sampai duit buat bayar pajak atau supplier bulan depan malah terpakai buat beli baju baru.
Luangkan waktu minimal 15 menit setiap malam buat cek: berapa duit masuk hari ini, berapa yang keluar, dan berapa sisa saldo buat besok. Gunakan aplikasi pencatatan keuangan yang simpel atau sekadar tabel Excel. Dengan memantau cash flow secara harian, kamu bisa langsung ambil tindakan kalau saldo mulai menyentuh zona merah, misalnya dengan menunda pembelian barang yang nggak mendesak atau mengejar piutang yang belum dibayar.
Biaya Kecil yang Menumpuk
Ada istilah "bocor halus" dalam keuangan bisnis. Seringkali kita sangat teliti sama biaya gede kayak sewa ruko atau beli mesin, tapi kita abai sama biaya-biaya kecil yang kelihatannya sepele. Pas Ramadan, biaya kecil ini sering bermunculan kayak jamur di musim hujan. Misalnya: biaya parkir kurir, biaya plastik kemasan ekstra, biaya takjil buat staf, biaya bensin buat beli kekurangan bahan, sampai biaya admin transfer antar bank.
Kalau dilihat satu-satu, harganya mungkin cuma Rp 5.000 atau Rp 10.000. Tapi kalau kejadian berkali-kali dalam sehari dan dikali 30 hari puasa, jumlahnya bisa jutaan rupiah! Inilah yang disebut biaya kecil yang menumpuk. Masalahnya, biaya-biaya kecil ini sering nggak dicatat karena dianggap "receh". Padahal, keuntungan bisnismu bisa habis cuma buat nutupin "bocor halus" ini.
Contoh lain adalah pemborosan alat tulis kantor (ATK) atau perlengkapan kemasan. Karena lagi ramai, staf kita sering nggak rapi pakainya. Lakban dibuang-buang, plastik banyak yang sobek karena nggak hati-hati, atau lampu ruangan yang dibiarkan menyala terus padahal nggak dipakai. Ini semua adalah duit yang terbuang sia-sia.
Coba deh bikin satu pos anggaran khusus buat "Biaya Tak Terduga" tapi tetap dengan limit yang jelas. Catat semua pengeluaran sekecil apa pun. Kalau kamu lihat ada satu pos biaya kecil yang membengkak, langsung cari tahu penyebabnya. Misalnya, kalau biaya parkir kurir mahal, mungkin lebih baik kurirnya pakai sistem langganan atau ganti rute. Jangan remehkan recehan, karena dari recehan itulah gunung keuntunganmu dibangun.
Tidak Ada Evaluasi Mingguan
Ramadan itu cuma sebulan, singkat banget! Perubahan trennya terjadi per minggu. Minggu pertama orang masih adaptasi puasa, minggu kedua mulai ajak buka bersama, minggu ketiga mulai sibuk cari baju Lebaran dan parsel, minggu keempat orang sudah pada mudik. Kalau kamu nggak melakukan evaluasi mingguan, kamu bakal telat merespons perubahan ini.
Banyak pebisnis yang baru evaluasi pas Ramadan sudah selesai. Ya telat dong! Kalau ternyata di minggu pertama kamu rugi karena biaya lembur kebanyakan, kamu harus tahu itu saat itu juga, supaya di minggu kedua kamu bisa langsung perbaiki jadwal shift. Evaluasi mingguan membantu kamu buat "setir ulang" strategi finansialmu. Jangan sampai kesalahan di awal bulan terus terbawa sampai akhir bulan.
Apa saja yang harus dievaluasi tiap minggu? Pertama, bandingkan target penjualan sama realita. Kedua, cek margin keuntungan asli setelah dikurangi semua biaya operasional minggu itu. Ketiga, cek performa stok; mana yang cepat laku, mana yang cuma menumpuk. Keempat, minta masukan dari tim operasional soal kendala di lapangan yang bikin biaya membengkak.
Evaluasi mingguan nggak harus formal kayak rapat kantoran. Bisa sambil buka puasa bersama atau ngobrol santai sebelum tutup toko. Yang penting ada datanya. Dengan evaluasi rutin, kamu jadi punya kendali penuh atas bisnismu. Kamu nggak lagi menjalankan bisnis seperti nyetir mobil sambil tutup mata, tapi kamu tahu persis kapan harus injak gas dan kapan harus injak rem.
Minim Koordinasi Tim
Keuangan bisnis itu bukan cuma urusan bagian kasir atau bagian akuntansi. Semua orang di tim punya pengaruh ke duit perusahaan. Kalau koordinasi tim buruk, finansial bisnis pasti kena imbasnya. Misalnya, tim dapur nggak koordinasi sama tim belanja, akhirnya beli bahan yang sebenarnya masih ada di gudang. Atau tim marketing janjiin promo "gratis ongkir" tanpa bilang ke tim keuangan, padahal budgetnya nggak ada.
Minimnya koordinasi di awal Ramadan sering bikin terjadi pemborosan karena double job atau kesalahan komunikasi. Pas lagi ramai, suasana kerja biasanya lebih stres. Kalau komunikasinya nggak lancar, emosi jadi gampang naik, dan orang jadi kerja asal-asalan. Kesalahan sekecil apa pun di operasional itu ujung-ujungnya adalah biaya. Salah tulis pesanan artinya satu porsi makanan terbuang, dan itu adalah kerugian.
Koordinasi yang buruk juga bikin kamu kehilangan potensi penjualan. Misalnya, stok barang sebenarnya masih ada di gudang belakang, tapi tim depan bilang ke pelanggan sudah habis karena mereka nggak cek atau nggak dikasih tahu. Ini namanya "rugi peluang". Duit yang seharusnya masuk jadi nggak jadi masuk cuma karena komunikasi yang mampet.
Biasakan untuk melakukan briefing singkat setiap hari sebelum operasional dimulai. Pastikan semua orang tahu stok apa yang harus dihabiskan, promo apa yang lagi jalan, dan apa target hari ini. Gunakan grup WhatsApp atau aplikasi komunikasi lainnya buat update kondisi stok atau kendala secara real-time. Tim yang solid dan komunikatif adalah kunci operasional yang efisien, dan operasional yang efisien adalah kunci keuangan yang sehat.
Kesimpulan
Mengelola bisnis di bulan Ramadan itu ibarat lari maraton di tengah cuaca panas. Kita butuh stamina, strategi, dan yang paling penting: disiplin. Kesalahan-kesalahan finansial yang kita bahas tadi sebenarnya bisa dihindari kalau kita mau sedikit lebih teliti dan nggak gampang terbawa suasana ramai. Jangan sampai kita terjebak dalam fenomena "omzet besar, profit nihil".
Poin penting yang harus diingat adalah: Data lebih jujur daripada perasaan. Selalu dasarkan setiap keputusan bisnis—mulai dari beli stok, bikin promo, sampai atur lembur—pada hitungan angka yang nyata. Ramadan adalah waktu yang tepat buat ningkatin keuntungan, tapi juga waktu yang rawan buat bikin bisnis limbung kalau manajemen keuangannya berantakan.
Fokuslah pada efisiensi. Bukan seberapa banyak barang yang kamu jual, tapi seberapa banyak sisa uang yang bisa kamu simpan setelah semua kewajiban terbayar. Perlakukan setiap rupiah dengan hormat, catat pengeluaran sekecil apa pun, dan selalu luangkan waktu buat evaluasi. Jangan biarkan kesalahan yang sama berulang lagi tahun ini.
Semoga Ramadan tahun ini bukan cuma jadi bulan yang penuh berkah secara spiritual bagi kamu dan tim, tapi juga jadi bulan yang penuh "berkah" bagi kesehatan finansial bisnismu. Dengan manajemen yang rapi, kamu bisa merayakan Lebaran dengan hati tenang karena bisnismu benar-benar untung, bukan cuma sekadar ramai. Selamat berbisnis dan selamat menjalankan ibadah puasa!
Tingkatkan kinerja keuangan bisnis Anda dengan workshop "Smart Financial Map"! Daftar sekarang di www.smartfinancialmap.com dan kuasai strategi finansial cerdas untuk bisnis yang lebih sukses. Ambil langkah pasti menuju kesuksesan bisnis Anda hari ini!





Comments