top of page

Mengelola Biaya Bahan Baku Saat Permintaan Ramadan Meningkat


Pengantar: Harga Bahan Baku Ramadan

Ramadan di Indonesia itu bukan cuma soal ibadah, tapi juga soal "pesta" ekonomi. Bagi pebisnis F&B atau manufaktur makanan, ini adalah masa peak season di mana permintaan konsumen melonjak drastis. Masalahnya, hukum pasar itu kejam: saat semua orang butuh barang yang sama di waktu yang sama, harga pasti terbang. Fenomena kenaikan harga bahan baku menjelang Ramadan ini sudah seperti "tradisi" tahunan yang tak terhindarkan.

 

Mulai dari telur, daging sapi, tepung terigu, sampai cabai dan bawang, semuanya kompak naik harga. Bagi pengusaha, ini adalah dilema besar. Di satu sisi, Anda senang karena orderan membludak, tapi di sisi lain, Anda pusing melihat nota belanja yang angka-angkanya makin tidak masuk akal. Kalau Anda menaikkan harga jual secara drastis, pelanggan bisa kabur ke kompetitor. Tapi kalau harga tetap, keuntungan Anda bisa ludes hanya untuk menutupi modal belanja.

 

Penjelasan singkat ini bertujuan untuk menyadarkan kita bahwa Ramadan bukan hanya soal strategi jualan atau pemasaran, tapi juga soal strategi manajemen biaya. Kita tidak bisa lagi belanja dengan cara "biasa" seperti di bulan-bulan lainnya. Persiapan harus dilakukan jauh-jauh hari. Anda perlu memetakan bahan baku mana yang paling kritis dan mana yang kenaikannya paling ekstrem. Tanpa persiapan matang, omzet besar yang Anda dapatkan saat lebaran nanti bisa-bisa hanya "numpang lewat" tanpa meninggalkan sisa di kantong karena habis buat bayar supplier. Jadi, mari kita bahas bagaimana cara mengamankan kantong bisnis di tengah gempuran harga pangan yang menggila ini.

 

Risiko Fluktuasi Harga

Risiko fluktuasi harga di bulan Ramadan itu ibarat naik roller coaster tanpa sabuk pengaman. Harganya tidak cuma naik, tapi bisa berubah dalam hitungan hari, bahkan jam. Ketidakpastian inilah musuh terbesar dalam bisnis. Saat Anda membuat perencanaan di awal bulan dengan asumsi harga minyak goreng Rp15.000, eh, minggu depan tiba-tiba sudah Rp18.000. Bayangkan berapa besar margin yang bocor hanya karena perubahan kecil itu.

 

Mengapa fluktuasi ini berbahaya? Pertama, karena prediksi keuntungan jadi kacau. Anda mungkin merasa jualan laku keras, tapi ternyata harga pokok produksinya sudah melampaui harga jual karena kenaikan bahan baku yang tidak terduga. Kedua, risiko operasional. Ketika harga naik terlalu tinggi, seringkali dibarengi dengan barang yang langka. Anda sudah punya orderan 1.000 stoples kue, tapi menteganya hilang dari pasaran karena ditimbun atau memang stok nasional habis.

 

Ketiga, fluktuasi ini bisa merusak arus kas (cash flow). Anda harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli jumlah barang yang sama. Kalau uang Anda tertanam terlalu banyak di bahan baku yang mahal, Anda mungkin akan kesulitan membayar gaji karyawan atau THR di akhir bulan. Di sinilah pentingnya manajemen risiko. Anda harus punya rencana cadangan: apakah Anda sudah stok barang dari bulan sebelumnya? Atau apakah Anda punya kontrak harga tetap dengan pemasok? Tanpa memahami risiko ini, Anda hanya sekadar berjudi dengan nasib, bukan sedang berbisnis.

 

Studi Kasus Margin Tergerus

Mari kita lihat contoh nyata yang sering terjadi pada bisnis katering rumahan saat Ramadan. Katakanlah ada "Katering Mak Nyuss" yang menerima pesanan 500 paket nasi box per hari selama bulan puasa. Di awal, mereka menetapkan harga Rp25.000 per box dengan asumsi biaya bahan baku (HPP) sebesar Rp15.000. Artinya, mereka berharap untung Rp10.000 per box.

 

Namun, memasuki minggu kedua Ramadan, harga daging ayam naik 30% dan harga bumbu dapur naik dua kali lipat. Karena tidak punya kontrak harga dengan tukang sayur di pasar, Mak Nyuss terpaksa membeli dengan harga harian. HPP yang tadinya Rp15.000 merangkak naik menjadi Rp19.000, lalu Rp21.000. Karena sudah ada perjanjian harga dengan pelanggan, Mak Nyuss tidak bisa menaikkan harga jual secara mendadak.

 

Hasilnya? Margin yang tadinya Rp10.000 per box tergerus habis menjadi hanya Rp4.000. Padahal, operasional seperti gas, listrik, dan tenaga kerja lembur juga butuh biaya. Di akhir Ramadan, setelah dihitung-hitung, keuntungan yang didapat ternyata tidak sebanding dengan capeknya. Bahkan, ada risiko rugi kalau ada kesalahan produksi sedikit saja. Studi kasus ini mengajarkan kita bahwa omzet tinggi itu menipu. Jangan sampai Anda sibuk bungkus paket siang-malam, tapi saat dihitung di akhir bulan, tabungan Anda malah berkurang karena marginnya "dimakan" oleh kenaikan harga bahan baku yang tidak terkendali.

 

Negosiasi dengan Supplier

Di masa krisis harga seperti Ramadan, hubungan baik Anda dengan supplier (pemasok) akan benar-benar diuji. Negosiasi bukan soal menekan harga serendah mungkin sampai mereka rugi, karena kalau mereka bangkrut, Anda juga susah. Negosiasi yang cerdas adalah mencari jalan tengah agar pasokan aman dan harga stabil.

 

Salah satu taktik paling ampuh adalah kontrak volume. Anda bisa bilang ke pemasok, "Saya akan beli 1 ton terigu selama bulan ini, tolong kunci harganya di angka sekian." Meskipun harga pasar nanti naik, pemasok biasanya mau mengunci harga karena mereka mendapatkan jaminan barang mereka pasti laku dalam jumlah besar. Ini adalah win-win solution.

 

Selain itu, cobalah negosiasi soal term of payment atau termin pembayaran. Kalau harga bahan baku naik, arus kas Anda pasti sesak. Mintalah kelonggaran waktu pembayaran, misalnya bayar 30 hari setelah barang sampai. Uang tunai yang Anda pegang bisa digunakan untuk operasional lain yang mendesak. Jangan lupa juga untuk selalu punya lebih dari satu supplier. Kalau Anda cuma bergantung pada satu orang, Anda tidak punya daya tawar. Saat mereka menaikkan harga, Anda terpaksa manut. Tapi kalau punya cadangan, Anda bisa membandingkan mana yang memberikan penawaran terbaik. Intinya, komunikasi adalah kunci. Sapa mereka lebih awal sebelum Ramadan tiba, dan buatlah kesepakatan tertulis agar tidak ada "drama" harga di tengah jalan.

 

Timing Pembelian

Dalam mengelola biaya, kapan Anda membeli barang itu sama pentingnya dengan apa yang Anda beli. Strategi timing pembelian adalah tentang membaca pergerakan harga. Umumnya, harga bahan baku mencapai puncaknya di H-7 sebelum Lebaran. Membeli barang di waktu tersebut adalah cara tercepat untuk membuat bisnis Anda merugi.

 

Strategi yang benar adalah melakukan stok awal (stockpiling) untuk bahan-bahan yang awet atau punya masa kedaluwarsa lama. Bahan seperti minyak goreng, tepung, gula, dan mentega sebaiknya sudah dibeli 1-2 bulan sebelum Ramadan dimulai, saat harga masih normal. Dengan menyetok lebih awal, Anda sudah punya tabungan "keuntungan" karena Anda menggunakan barang dengan harga lama saat harga pasar sudah melambung.

 

Namun, bagaimana dengan bahan segar seperti daging atau sayur? Untuk daging, Anda bisa melakukan frozen atau pembekuan massal jika punya fasilitas cold storage yang memadai. Untuk sayuran, kuncinya adalah belanja di waktu yang tepat setiap harinya. Biasanya belanja langsung ke pasar induk pada dini hari memberikan harga yang jauh lebih murah dibanding belanja di pasar tradisional saat matahari sudah tinggi. Selain itu, pantau kalender stok. Jangan biarkan gudang kosong di hari Jumat karena biasanya harga di akhir pekan cenderung naik. Dengan mengatur waktu belanja yang presisi, Anda bisa menghemat 5-10% dari total biaya belanja bulanan. Uang receh yang kalau dikumpulkan bisa buat nambah bonus THR karyawan!

 

Substitusi Bahan Baku

Substitusi bukan berarti menurunkan kualitas sampai rasanya jadi aneh, ya. Substitusi adalah seni mengganti bahan baku yang harganya sedang tidak masuk akal dengan bahan lain yang fungsinya sama tapi lebih ekonomis. Ini butuh kreativitas di dapur. Misalnya, jika harga cabai rawit merah sedang terbang tinggi, Anda bisa mencampurnya dengan cabai kering atau pasta cabai berkualitas yang harganya lebih stabil.

 

Contoh lain, di dunia kue kering, jika harga mentega impor melambung, Anda bisa mencoba mencampurnya dengan margarin kualitas premium atau mentega lokal dengan perbandingan tertentu yang tidak merusak tekstur dan aroma khasnya. Kuncinya adalah percobaan (trial & error) sebelum Ramadan tiba. Jangan mencoba resep substitusi saat pesanan sudah mulai membludak, karena taruhannya adalah kepercayaan pelanggan.

 

Anda juga bisa melakukan substitusi pada "jenis" bahan. Misalnya, jika harga daging sapi bagian has dalam terlalu mahal untuk menu rendang, Anda bisa menggunakan bagian paha yang lebih terjangkau namun tetap enak jika dimasak dengan teknik yang benar. Intinya, jadilah fleksibel. Jangan kaku pada satu merek atau satu jenis bahan saja. Cari alternatif yang tersedia di pasar lokal. Selama rasa tetap konsisten dan standar kesehatan terjaga, substitusi adalah cara paling jenius untuk menjaga margin tetap tebal di saat semua harga bahan baku sedang "demam".

 

Kontrol Waste Produksi

Seringkali, kebocoran uang bukan karena harga bahan baku yang mahal, tapi karena banyak bahan baku yang berakhir di tempat sampah. Di bulan Ramadan, saat produksi sedang cepat-cepatnya karena dikejar deadline buka puasa, kesalahan manusia sering terjadi. Nasi gosong, sayur layu karena lupa dimasukkan kulkas, atau adonan kue yang bantat karena salah timbangan.

 

Mengkontrol waste atau limbah produksi adalah cara gratis untuk menurunkan biaya. Pastikan semua karyawan mengikuti SOP (Standard Operating Procedure) yang ketat. Gunakan timbangan digital untuk setiap bahan, jangan pakai perasaan. Perasaan itu buat jatuh cinta, kalau buat bisnis pakailah data dan ukuran. Dengan ukuran yang presisi, penggunaan bahan baku jadi lebih efisien.

 

Selain itu, perhatikan cara penyimpanan. Pastikan sistem FIFO (First In, First Out) berjalan. Barang yang masuk duluan harus dipakai duluan agar tidak kedaluwarsa di pojok gudang. Catat setiap kali ada kesalahan produksi: kenapa bisa gagal? Siapa yang bertanggung jawab? Dengan mencatat, Anda bisa tahu di mana titik kebocoran biaya Anda. Ingat, membuang satu kilo terigu saat harga sedang mahal itu sama saja dengan membuang uang tunai dari dompet Anda. Makin sedikit waste, makin banyak uang yang bisa Anda simpan sebagai laba bersih.

 

Monitoring HPP Harian

Banyak pengusaha baru sadar kalau mereka rugi setelah Ramadan selesai. Itu namanya sudah telat. Supaya tidak kecolongan, Anda wajib melakukan monitoring HPP (Harga Pokok Produksi) secara harian. Jangan menunggu seminggu sekali, apalagi sebulan sekali. Mengapa harian? Karena seperti yang kita bahas di poin risiko, harga bahan baku Ramadan itu berubahnya sangat cepat.

 

Anda perlu punya tabel sederhana, bisa di buku catatan atau Excel. Setiap pagi setelah belanja, masukkan harga-harga terbaru. Lihat berapa biaya untuk membuat satu porsi makanan hari ini. Jika HPP sudah menyentuh "zona merah" atau hampir mendekati harga jual, Anda harus segera ambil tindakan. Tindakannya bisa berupa mengurangi sedikit porsi (dengan catatan tetap wajar), mengganti bahan pelengkap, atau jika terpaksa, menyesuaikan harga jual untuk pesanan baru.

 

Monitoring harian ini juga membantu Anda melihat pola. Oh, ternyata harga ayam selalu naik di hari Kamis. Maka di hari Rabu Anda bisa beli lebih banyak untuk stok dua hari ke depan. Tanpa data harian, Anda seperti menyetir mobil di malam hari tanpa lampu depan; Anda tidak tahu kapan akan menabrak jurang kerugian. Data adalah kompas Anda. Dengan rajin menghitung setiap hari, Anda punya kontrol penuh atas nasib finansial bisnis Anda selama masa sibuk Ramadan.

 

Sistem Approval Pembelian

Saat bisnis sedang ramai-ramainya, godaan untuk asal belanja itu besar sekali. Karyawan yang panik karena stok habis bisa saja langsung lari ke supermarket terdekat dan membeli barang dengan harga eceran yang mahal tanpa koordinasi. Di sinilah pentingnya Sistem Approval (Persetujuan) Pembelian.

 

Setiap rupiah yang keluar dari kas bisnis harus seizin orang yang berwenang, biasanya manajer atau pemilik. Terapkan aturan bahwa belanja hanya boleh dilakukan di supplier yang sudah disepakati. Jika ingin membeli di luar itu, harus ada alasan kuat dan perbandingan harga. Hal ini mencegah terjadinya kecurangan (seperti mark-up harga) atau pembelian barang yang sebenarnya belum terlalu dibutuhkan.

 

Sistem ini juga mengajarkan disiplin dalam perencanaan stok. Karyawan jadi terbiasa untuk mengecek gudang secara rutin dan melaporkan kebutuhan sebelum stok benar-benar habis. Jangan sampai ada drama "beli mentega di minimarket sebelah" hanya karena lupa pesan ke distributor. Harga minimarket bisa 20-30% lebih mahal dibanding distributor. Kalau hal kecil ini dibiarkan terus-menerus selama sebulan, total kerugiannya bisa buat beli motor baru. Dengan sistem approval yang ketat, arus keluar masuk uang lebih transparan dan setiap sen biaya belanja benar-benar terukur kegunaannya.

 

Kesimpulan

Mengelola biaya bahan baku di saat Ramadan memang menantang, tapi bukan berarti tidak bisa ditaklukkan. Kuncinya bukan pada seberapa besar omzet yang Anda dapatkan, tapi seberapa disiplin Anda menjaga setiap rupiah yang keluar untuk belanja. Ramadan adalah ujian bagi manajemen operasional bisnis Anda. Jika Anda berhasil melewati bulan ini dengan margin yang tetap sehat, artinya sistem bisnis Anda sudah sangat kuat.

 

Ringkasnya, mulailah dengan persiapan awal, perkuat negosiasi dengan supplier, beli di waktu yang tepat, dan jangan takut untuk kreatif melakukan substitusi tanpa merusak kualitas. Di dalam operasional, jaga agar tidak ada bahan baku yang terbuang sia-sia dan pantau setiap pergerakan harga secara harian. Semua strategi ini bermuara pada satu tujuan: agar saat takbiran nanti, Anda tidak cuma merayakan kemenangan ibadah, tapi juga merayakan kemenangan finansial bisnis Anda.

 

Ingat, bisnis yang sehat adalah bisnis yang punya untung, bukan cuma bisnis yang terlihat sibuk. Semoga strategi ini membantu Anda mengamankan profit dan membuat Ramadan tahun ini menjadi masa pertumbuhan yang luar biasa bagi bisnis Anda. Selamat berjuang dan semoga berkah!


Tingkatkan kinerja keuangan bisnis Anda dengan workshop "Smart Financial Map"! Daftar sekarang di www.smartfinancialmap.com dan kuasai strategi finansial cerdas untuk bisnis yang lebih sukses. Ambil langkah pasti menuju kesuksesan bisnis Anda hari ini!







PT Cerdas Keuangan Bisnis berdiri sejak 2023

© 2025 @Ilmukeuangan

bottom of page